
Fast fashion itu bisa diibaratkan seperti makanan cepat saji dalam dunia pakaian, mudah didapat, murah, selalu baru, dan selalu menggoda. Brand-brand besar berlomba-lomba meniru gaya runway lalu dijual dengan harga terjangkau dalam waktu singkat. Akhirnya, konsumen tergoda untuk terus membeli, padahal belum tentu benar-benar butuh.
Tapi, di balik kepraktisan dan harga yang ramah kantong, ada sisi lain dari fast fashion yang jarang dibicarakan, yaitu dampaknya ke lingkungan, etika produksi, dan kebiasaan konsumtif yang tanpa sadar kita bangun.
Kovermagz akan bahas tuntas mengenai apa itu fast fashion hingga dampak apa saja yang sebenarnya ditinggalkannya. Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!
Sejarah Fast Fashion
Sejarah proses produksi Fast fashion adalah dimulai dari adanya revolusi industri. Sebelum masa tersebut ada, sekitar tahun 1960-an, tren berpakaian disesuaikan ke dalam empat musim. Yakni terdiri dari musim panas, gugur, dingin, dan semi. Tak heran kala itu desainer bekerja sampai berbulan-bulan untuk dapat merancang pakaian hingga selesai.
Selain itu, fashion adalah suatu hal mewah yang hanya bisa dipakai oleh orang-orang kalangan atas sebab harganya sangat mahal. Minimnya pengetahuan mengenai mesin jahit, membuat desainer menjahit kain-kain dengan kualitas terbaik tersebut secara manual. Alhasil, proses penjahitannya pun telah menghabiskan waktu yang sangat lama.
Fast fashion adalah sebuah konsep yang baru saja dikenal pada saat dunia memasuki revolusi industri yang pertama, yaitu tahun 1980-an. Di masa itu, maraknya penggunaan mesin jahit menimbulkan produsen fashion memproduksi pakaian sebanyak mungkin dalam waktu sangat cepat. Dampaknya, produsen hanya berfokus terhadap kuantitas supaya mampu menjual sebanyak-banyaknya serta meraup keuntungan yang tinggi.
Melalui fenomena itulah fashion tak hanya sebatas untuk kelas atas namun seluruh kalangan dapat menggunakannya. Lebih lagi terdapat beberapa produsen yang menjual berbagai fesyen tiruan layaknya diproduksi merek-merek ternama dengan harga lebih murah. Mereka tidak lagi mementingkan kualitas bahan baku sehingga fast fashion ini akan berdampak buruk bagi lingkungan.
Apa Saja Ciri-ciri Fast Fashion?
Jika dilihat dari proses produksinya, fast fashion memiliki beberapa perbedaan dibandingkan konsep fesyen lainnya. Berikut ini ciri-ciri dari fast fashion adalah sebagai berikut:
1. Up to Date
Karena fast fashion memang dituntut untuk bisa menghasilkan tren yang cepat, maka mereka pun harus punya banyak model baju dan trennya harus cepat berubah.
2. Harga Murah
Bahan baku yang digunakan dalam fast fashion adalah bahan yang memang berkualitas buruk. Dengan biaya produksi yang rendah, wajar saja bila harga pakaian di industri ini terbilang murah. Selain itu juga tidak awet dan hanya bisa dipakai dalam waktu singkat.
3. Cabangnya Banyak
Ritel fast fashion adalah industri yang memiliki banyak cabang dan biasanya tersebar di beberapa daerah. Bahkan menyebar hingga ke mancanegara. Tujuannya yang jelas adalah agar dapat menjangkau pasar sebanyak-banyaknya.
4. Diproduksi di Negara Berkembang
Demi menekan harga produksi, maka industri tekstil fast fashion biasanya punya pabrik di negara berkembang. Umumnya dibuat di negara Asia karena upah karyawannya pun lebih rendah dari negara Amerika dan Eropa.
Dampak fast fashion yang paling jarang disadari
Meskipun terlihat menyenangkan, fast fashion juga memiliki dampak yang cukup besar, terutama dalam jangka panjang. Beberapa dampaknya adalah:
- Kualitas yang tidak tahan lama. Karena diproduksi dengan cepat dan biaya rendah, banyak item fast fashion yang tidak dirancang untuk digunakan dalam waktu lama. Akibatnya, pakaian lebih mudah rusak atau kehilangan bentuk.
- Menormalisasi overconsumption (konsumsi berlebihan). Karena harganya murah, kita cenderung membeli lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan. Lemari penuh, tapi tetap merasa “tidak punya baju”.
- Dampak lingkungan. Produksi massal berarti penggunaan bahan, air, dan energi dalam jumlah besar. Ditambah lagi, banyak pakaian yang akhirnya dibuang dan menjadi limbah tekstil.
- Siklus tren yang terlalu cepat. Fast fashion membuat tren cepat datang dan pergi. Akibatnya, banyak orang merasa “tertinggal” jika tidak mengikuti, padahal gaya atau style kamu sendiri jauh lebih penting daripada tren!
Jadi, fast fashion adalah bagian dari dunia fashion modern yang sulit dihindari. Ia menawarkan kemudahan, kecepatan, dan akses yang luas untuk tampil stylish. Namun, di balik semua itu, ada tanggung jawab yang perlu kita sadari sebagai konsumen. Bukan tentang berhenti membeli, tapi tentang membeli dengan lebih sadar.


