Bukti bahwa metode ‘mangalomang’ ini sudah ada di Ankola khususnya diperkenalkan oleh pemandu Ida Pfeiffer berkebangsaan Austria di dalam perjalanan wisata menuju Silindoeng and Toba pada Agustus 1852.
‘….Selama malam, saya dengan yang lain istirahat di hutan dengan memasak beras semi kering yang direbus dengan sedikit tambahan garam, lalu saya melihat mereka mempersiapkan beras dalam cara yang sama sekali baru bagi saya. Mereka membungkusnya dengan daun besar (daun pisang), dan memasukkan beras ke dalam potongan bambu, kemudian menuangkan sejumlah kecil air, lalu meletakkan tongkat bamboo itu pada api pembakaran, mereka membiarkan berbaring begitu lama sampai bamboo kelihatan mulai terbakar, cukup lama berlangsung sejak bamboo segar dan isinya dipanggang’.
Kutipan di atas diambil dari kisah yang diceritakan sendiri oleh Ida Pfeiffer yang ditulisnya sendiri pada tanggal 12 Oktober 1852 yang kemudian dikirimkannya sendiri ke sebuah koran. Kisah ini diterbitkan pertama kali oleh koran Algemeen Handelsblad edisi 09-05-1853 di Batavia, Nederlansche Indie. Publikasi ini lalu dilansir oleh sejumlah koran yang terbit di Batavia, Semarang, Soerabaija dan Rotterdam. Sejauh yang diketahui, kisah perjalanan Ida Pfeiffer di Tanah Batak ini merupakan catatan yang terdokumentasi secara otentik bagaimana metode lemang dijelaskan secara lengkap.
Deskripsi metode lemang ini dengan sendirinya dicatat pertama kali oleh Ida Pfeiffer (1852) dan telah mendahului waktu pencatatan yang dilakukan oleh orang Inggris yang melakukan ekspedisi di semenanjung Malaysia antara tahun 1864 dan 1867.
MASA KINI
Uniknya, meski berasal dari minang, kota Tebing Tinggi di Sumatera Utara-lah yang dijuluki sebagai Kota Lemang. Julukan ini merujuk pada banyaknya penjual lemang di kota ini. Awalnya, warga Minang etnis Minangkabau,yang merantau ke Tebing Tinggi membuka bisnis kuliner lemang sekitaran tahun 1947. Lemang yang paling terkenal adalah Lemang Batok.
Pada masa kini, Kota Tebing Tinggi di Sumatera Utara dikenal sebagai Kota Lemang adalah suatu fakta. Lemang dari Tebing Tinggi disebut juga Lemang Batok, karena dibakar tidak menggunakan arang, melainkan batok kelapa. Disebut industri lemang yang terbilang cukup berkembang di kota ini karena produksi berlangsung tiap hari dan produsen yang menghasilkan lemang cukup banyak. Konsumennya tidak hanya konsumen tradisi tetapi juga konsumen baru di luar konsumen tradisi. Menariknya, konsumen tradisi ini tidak saja yang tinggal di Tebing Tinggi dan sekitarnya, tetapi karena Kota Tebing Tinggi adalah kota lintasan jarak jauh dari Tapanuli ke Medan dan sebaliknya, maka konsumen tradisi juga dari luar kota.
Penulis: Elsa Malona


