SEJARAH YANG PANJANG
MALAYSIA
Di dalam buku The Cambridge World History of Food, disebutkan hanya satu wilayah (kawasan) di jagat raya ini yang pernah dicatat yang mempraktekkan metode memasak beras menjadi nasi ala bamboo. Di dalam buku ini metode ini ditemukan di Malaysia dimana beras dengan dicampur dengan daging di dalam seruas bamboo yang dibakar di atas api.
Diduga, salah satu rujukan awal dari tulisan tersebut adalah sebuah buku yang berjudul ‘Monographs on Malay Subjects’ volume 3 yang diterbitkan pertama kali tahun 1925 yang ditulis ulang berdasarkan sebuah menograf yang bahannya dikumpulkan antara tahun 1864-1867 oleh L.A. Mills. Di dalam monograf ini disebutkan bahwa ada seseorang memberikan nasi di dalam suatu wadah kepada seseorang yang lain: ‘rice in a pot and condiments in a bamboo’. Hanya satu frase itu saja.
Kesimpulannya rekod yang terdapat dalam buku Cambridge dan buku Monographs on Malay Subjects ini menjadi bukti bahwa di Malaysia setidaknya metode memasak bamboo ini sudah ada sejak 1864.
SUMATERA
Penduduk Malaysia masa kini pada dasarnya tergolong mix population atau melting pot. Ada local ada pendatang. Ada Melajoe, ada Madoera, ada Djawa, ada Boegis, ada Bandjar, ada China, ada India, ada Minangkabaoe, dan tentu saja ada Batak. Pendatang di semenanjung ini sudah ada jauh sebelum bahan-bahan monograf itu dikumpulkan (1864). Migran Minangkabau dan migrant Batak. menyebar dari Alam Minangkabaoe dan Tanah Batak melalui jalur-jalur yang berbeda lalu mengumpul di semenanjung Malaysia. Dua etnik yang berbeda ini dalam perkembangannya mengutub menjadi dua koloni penduduk pendatang yakni Salangor (Mandheling en Ankola) dan Nagari Sembilan (Minangkabaoe).
Sesuai tradisi Minangkabau, diyakini bahwa teknik memasak lemang diperkenalkan pertama kali oleh Sheikh Burhanuddin pada awal abad 17. Berawal saat beliau berdakwah memperkenalkan Islam di tanah Minang, ia sering disuguhi berbagai macam makanan oleh penduduk. Kuatir akan kehalalan makanannya, ia meminta penduduk mencari bilah bambu yang dialasi daun pisang muda untuk dijadikan tempat memasak beras ketan bercampur santan, kemudian dipanggang di atas tungku kayu bakar. Syekh Burhanuddin menyarankan kepada setiap masyarakat agar menyajikan makanan lamang ini menjadi simbol makanan yang dihidangkan dalam silaturahim.
Padahal, di tempat di mana asal para migran etnik Batak, yakni Mandheling and Ankola, sejak baheula, metode memasak beras menjadi nasi ini pun sudah umum. Dalam pesta horja, penganan dari sipulut ini selalu hadir. ‘Pangan ma lomang i lae, ido panganon ni ompungta, anso manortor hita’, adalah pantun yang biasa diucapkan dalam pesta-pesta adat (tradisional).


