Keunikan Perhelatan MotoGP Mandalika

3. Tak Ada Semprotan Sampanye di Mandalika

Rangkaian balapan Kejuaraan Dunia MotoGP di Sirkuit Mandalika telah berakhir. Ada satu momen menarik usai balapan dihelat dari kelas Moto3, Moto2 hingga kelas utama pada Minggu (20/3).

Umumnya, ada perayaan semprot sampanye di podium sebagai ungkapan kebahagiaan pembalap. Namun tak seperti biasanya, tak ada selebrasi semprot sampanye usai ketiga pembalap itu menerima trofi. Padahal, sampanye telah disiapkan di masing-masing podium untuk para pembalap.

Hal ini pun menimbulkan banyak komentar dan pertanyaan bagi netizen di media sosial Twitter.

“Tidak ada semprot2 sampanye gaes, alhamdulillah,” jelas akun Twitter @mahe****

“Ini semoga alasan gak ada perayaan sampanye di podium bukan karena haram dilakukan karena ini diselenggarakan di negara mayoritas muslim ya… Karena pawang tadi juga bukan bagian dari ritual muslim juga 😂,” jelas akun @mirz******

 

4. Pawang Hujan

Pawang Hujan menjadi salah satu topik yang kini ramai dibicarakan warganet. Aksinya di perhelatan balapan Internasional mendapat reaksi dari netizen seluruh Dunia.

Dikutip dari tulisan berjudul Tradisi Nyarang Hujan Masyarakat Muslim Banten (Studi di Kecamatan Cimanuk Kabupaten Pandeglang), ritual terkait hujan ini sudah berlaku turun temurun. Saking lamanya, tidak diketahui sejarah awal tradisi yang terus berakar hingga sekarang.

“Masyarakat tidak mudah meninggalkan kebiasaan nenek moyang mereka. Tingkah laku atau tradisi seperti itu terjadi dari generasi dahulu ke generasi berikutnya,” tulis Eneng Purwanti dosen di Fakultas Ushuluddin, Dakwah, dan Adab IAIN yang kini menjadi UIN sultan Maulana Hasanuddin, Banten.

Dalam tulisan yang terbit di jurnal Al QALAM tersebut dijelaskan, masyarakat sebetulnya percaya pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Namun, ikhtiar atau usaha tetap diperlukan untuk mewujudkan keinginan. Usaha diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan nyare’at dan doa yang dipanjatkan pawang.

Tradisi Nyarang Hujan dilaksanakan saat masyarakat memiliki hajatan atau agenda lain yang mengundang banyak orang. Agenda tersebut diharapkan bisa berlangsung dengan baik dan lancar, tanpa ada gangguan termasuk turunnya hujan. Dalam tradisi ini, peran pawang hujan bukanlah menolak hujan.

“Pawang hanya memindahkan hujan dari satu tempat ke tempat lain. Terkait keberhasilannya, rata-rata responden mengatakan ini adalah bagian dari usaha manusia. Berhasil atau tidak dikembalikan lagi pada yang memiliki kuasa,” tulis jurnal tersebut.