Kenali Spasmodic Dysphonia, Gangguan Suara yang Dialami Nadin Amizah

Baru-baru ini, salah satu penyanyi ternama Indonesia, yakni Nadin Amizah mengonfirmasi bahwa dirinya didiagnosis Spasmodic Dysphonia. Dalam unggahan di Instragram Storynya, Nadin menceritakan gejala awalnya adalah perubahan tekstur suara seperti setelah merokok padahal dirinya bukan perokok. Lalu, apa itu Spasmodic Dysphonia?

Pengertian Spasmodic Dysphonia dan Penyebabnya

Melansir dari John Hopkins Medicine, Spasmodic Dysphonia adalah gangguan suara yang yang terjadi karena otot-otot di pita suara bergerak sendiri tanpa bisa dikendalikan. Kondisi ini membuat suara terputus-putus dan terdengar tegang, tertahan, atau seperti tercekik.

Gangguan ini dapat menimbulkan masalah yang variatif, mulai dari kesulitan mengucapkan satu atau dua kata hingga sama sekali tidak dapat berbicara. Gangguan ini lebih sering dialami oleh perempuan, dengan gejala yang biasanya mulai muncul pada usia 30 hingga 50 tahun.

Penyebab pasti Spasmodic Dysphonia memang belum diketahui. Namun, para ahli menduga gangguan ini terjadi karena masalah pada saraf di otak yang mengatur gerakan otot, termasuk otot pita suara.

Bagian otak yang dicurigai bermasalah adalah ganglia basal, yaitu “pengatur” gerakan tubuh agar bisa berjalan dengan halus dan terkoordinasi. Jika bagian ini tidak bekerja dengan baik, otot pita suara bisa bergerak sendiri tanpa disadari.

Spasmodic Dysphonia juga bisa diturunkan dalam keluarga. Pada beberapa orang, gangguan ini muncul setelah sakit flu atau pilek, cedera pada pita suara, terlalu sering menggunakan suara (misalnya banyak berbicara atau bernyanyi), atau karena stres berat.

Gejala dari gangguan ini bervariasi, tergantung dari apakah kejang ototnya menyebabkan pita suara menutup atau membuka. Bicara yang terasa tegang atau sulit, suara yang lemah, pelan, atau berangin dapat menjadi tanda disfonia spasmodik.

Spasmodic Dysphonia biasanya didiagnosis oleh dokter spesialis THT. Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan dan memeriksa kondisi secara umum.

Untuk melihat kondisi pita suara, dokter bisa melakukan pemeriksaan dengan alat kecil berupa selang berkamera dan bercahaya yang dimasukkan lewat hidung hingga ke kotak suara. Dari situ, dokter dapat melihat langsung bagaimana pita suara bergerak saat berbicara.

Selain itu, dokter saraf juga bisa dilibatkan untuk memastikan apakah ada gangguan pada sistem saraf yang menjadi penyebab masalah suara tersebut. Masih melansir John Hopkins Medicine, seseorang yang didiagnosis Spasmodic Dysphonia dapat melakukan pengobatan. Namun, tujuan utama pengobatan Spasmodic Dysphonia bukan untuk menyembuhkan sepenuhnya, tetapi untuk mengurangi gejala agar suara bisa digunakan dengan lebih baik.

Dokter akan menentukan pengobatan yang paling cocok dengan melihat kondisi masing-masing orang, seperti usia, kesehatan secara keseluruhan, seberapa parah gangguan suara yang dialami, serta kemampuan dan kenyamanan pasien dalam menjalani terapi tertentu.

Salah satu pengobatan yang paling umum adalah suntik Botox ke otot pita suara yang bermasalah. Suntikan ini membantu mengurangi kejang sehingga suara menjadi lebih lancar. Selain itu, terapi wicara juga sangat penting untuk melatih cara berbicara yang lebih efektif. Di beberapa rumah sakit, ada juga tindakan operasi tertentu yang bertujuan mengurangi gangguan saraf pada pita suara.

Baca Juga:  6 Idol K-Pop Ini Terjun ke Dunia Akting Lewat Proyek Terbaru, Ada Idolamu?