
Salah satu ikon budaya Indonesia, Hamzah Sulaiman yang dikenal luas sebagai pemilik House of Raminten diketahui telah meninggal dunia pada Rabu malam, 23 April 2025 tepat di usianya yang ke-75 tahun. Kabar duka berpulangnya pria bernama lengkap Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Tanaya Hamidjinindya tersebut diberitakan oleh laman resmi media sosial nya @houseoframinten.
“Selamat jalan Kanjeng.., Terimakasih banyak atas segalanya, engkau tidak hanya Pemimpin bagi kami, tapi juga sebagai Guru kami, Panutan kami, dan seseorang yang telah berjasa bagi kami.. 😭Semoga disana bahagia ya kanjeng ❤️,” bunyi caption unggahan berita duka tersebut dalam Instagram.
Hamzah menghembuskan napas terakhirnya di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Jenazahnya akan disemayamkan di Rumah Duka PUKJ Yogyakarta, Kasihan, Bantul. Rencananya, proses kremasi akan dilaksanakan pada Sabtu, 26 April 2025
Sebagai bentuk penghormatan, seluruh lini usaha miliknya, termasuk Hamzah Batik dan The House of Raminten, tutup sementara selama satu hari. Kepergian Hamzah Sulaiman tentunya meninggalkan duka mendalam. Pasalnya, beliau dikenang sebagai sosok yang berdedikasi dalam melestarikan dan memperkenalkan kekayaan budaya lokal melalui berbagai seni dan kuliner.
Sejarah Raminten
Mengutip dari situs resmi, nama Raminten diambil dari sebuah peran Hamzah Sulaiman dalam acara komedi situasi (sitkom) di sebuah stasiun televisi lokal, yang memerankan sosok perempuan Jawa berpakaian tradisional lengkap yakni berkebaya, memakai kain, dan berkonde. Dari peran itulah Hamzah Sulaiman memulai bisnisnya dengan nama Raminten yang menjadi ikon Hamzah Batik dan Raminten Group, termasuk menjadi salah satu ikon wisata dan budaya di Yogyakarta.
Rekam Jejak Hamzah Sulaiman alias Raminten
Hamzah Sulaiman sendiri memiliki nama asli Tanoyo Hamijo Nindyo. Atas dedikasinya dalam melestarikan budaya Jawa, dia dianugerahi gelar kehormatan Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Tanoyo Hamijinindyo oleh Keraton Yogyakarta.
Pengusaha, seniman, dan budayawan asal Yogyakarta yang lahir pada 7 Januari 1950, tersebut merupakan generasi kedua dari keluarga pendiri Grup Mirota, yang mengelola berbagai usaha yang meliputi berbagai bidang, termasuk kuliner dan ritel seperti pusat oleh-oleh Hamzah Batik, rumah makan, dan sanggar tari.
Hamzah memulai kariernya dengan melanjutkan usaha keluarga, Mirota, yang didirikan oleh orang tuanya di Yogyakarta. Nama “Mirota” merupakan singkatan dari “Minuman, Roti, dan Tawar”. Pada 1979, Hamzah mengembangkan usaha ini menjadi Mirota Batik, toko batik yang kemudian menjadi ikon di kawasan Malioboro. Namun, pada 2004, Mirota Batik mengalami musibah kebakaran hebat.
Kendati begitu, Hamzah tetap tegar dan membangun kembali toko tersebut dengan nama baru: Hamzah Batik. Toko ini dibangun kembali dengan desain tiga lantai dan luas bangunan mencapai 802 m², menampilkan berbagai produk oleh-oleh khas, kerajinan tangan, dan busana tradisional
Selain sibuk berbisnis, Hamzah juga dikenal luas sebagai seniman yang menciptakan karakter “Raminten”, sosok perempuan jawa yang dilakoninya dalam sebuah acara komedi situasi di stasiun televisi lokal Jogja TV.
Karakter ini kemudian menjadi inspirasi utama dalam pendirian restoran The House of Raminten pada 26 Desember 2008 di Kotabaru, Yogyakarta. Restoran ini awalnya menjual aneka jamu dan sego kucing dengan harga terjangkau, namun berkembang menjadi suatu ikon kuliner dan budaya yang menggabungkan tradisi budaya Jawa yang kental berpadu dengan konsep modern.
Hamzah mendirikan Raminten Cabaret Show, sebuah pertunjukan kabaret yang menjadi ruang aman bagi siapa pun untuk berekspresi. Pertunjukan ini berawal dari panggung amal pada 2010 untuk membantu korban erupsi Gunung Merapi, kemudian berkembang menjadi pertunjukan kabaret yang ikonik di kawasan Malioboro.
Raminten Cabaret Show telah menggelar pertunjukan sejak 2009. Pementasan mereka salah satunya dapat disaksikan di gedung Hamzah Batik Malioboro, atau yang dulunya dikenal sebagai Oyot Godhong. Sejumlah wisatawan pun mulai menyebut Oyot Godhong sebagai Raminten 3.
Pertunjukan kabaret yang berlangsung kurang lebih 110 menit ini, menggabungkan berbagai elemen seni seperti musik, tari, komedi, dan drama. Para penampil, yang sebagian besar adalah pria, muncul dengan kostum dan riasan mencolok.
Terkadang mereka melakukan cross-dressing dengan berdandan seperti wanita, menirukan berbagai tokoh terkenal dari dalam dan luar negeri. Para pemain melakukan lipsync dan tarian yang enerjik, menciptakan suasana yang meriah dan menghibur. Pertunjukan ini juga menampilkan musik keroncong dan tarian tradisional sebagai pembukanya.
Melalui karakter “Raminten”, Hamzah menciptakan ruang inklusif yang merayakan keberagaman dan kebebasan berekspresi. Meskipun menghadapi tekanan dan stigma sosial, termasuk dari aparat yang menyarankan penghentian pertunjukan karena alasan orientasi seksual para penampilnya, dia tetap teguh mempertahankan pertunjukan ini.


