Hati-Hati! Sampah Berserakan Sumber Beragam Penyakit

Leptospirosis (Kencing Tikus) Paling Berbahaya

Tikus menjadi salah satu vektor pembawa bakteri paling berbahaya sebab urinenya mengandung bakteri mematikan. Bakteri bernama Leptospira Interrogans ini membawa penyakit leptospirosis yang bisa menyebabkan penderitanya terserang meningitis (radang selaput otak), kejang-kejang, demam hingga alergi.

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini seperti mual, muntah, sakit kepala, nyeri otot, sakit perut hingga ruam. Sayangnya Leptospirosis baru menunjukkan gejala setelah 2 minggu penderita terinfeksi bahkan pada sebagian kasus, gejala baru terdeteksi setelah 1 bulan.

“Gejalanya tidak langsung kelihatan. Misalnya ketika kita bersih-bersih dapur kemudian dua atau lima hari setelahnya demam. Jangan dianggap sepele, Ah karena kurang istirahat,” katanya.

Bisa saja sampah di halaman belakang rumah dilewati tikus. Kemudian ia berjalan melewati rak piring. Urine tikus ketika kering tidak akan kelihatan bahkan jika tidak teliti aromanya pun tidak tercium. Biasanya kalau memang terdapat kotoran tikus disekitarnya akan ada urinenya.

Ia menambahkan bahwa masyarakat harus aware dan bisa membedakan. Demam akibat kelelahan biasanya berlangsung selama tiga maksimal lima hari. Jika lebih maka ingat kembali aktivitas yang pernah dilakukan.

“Jujurlah ketika berkonsultasi dengan dokter agar diagnosanya tepat. Selain karena sulit terdeteksi, gejala penyakit ini hampir serupa dengan demam berdarah. Parahnya bakteri Leptospira Interrogans juga menyerang organ lain yang memperparah kondisi pasien,” tambahnya

Selain tikus, lalat pun menjadi vektor lain pembawa bakteri. Untuk satu jenis, misalnya lalat rumah (Musca domestica) bisa membawa 315 jenis bakteri berbeda. Lain lagi dengan lalat hijau (Calliphora vomitoria) mampu membawa 316 jenis bakteri. Jika ada dua saja lalat hinggap di minuman kita, berapa banyak bakteri yang tertinggal di dalamnya.

Meski demikian ada saja yang cuek dan tetap melahap makanan meski telah dihinggapi lalat. Meski hanya hinggap 2-3 detik, lalat tetap meninggalkan bakteri seperti Escherichia coli, Helicobacter pylori, Salmonella, Rotavirus, Virus hepatitis A dan lainnya. Ada banyak penyakit yang disebabkan oleh bakteri diatas, seperti disentri, diare, demam tifoid atau tipes, kolera, infeksi mata dan infeksi kulit.

Dokter Beni mengatakan jika angka kesakitan akibat diare di RSU Sarah tertinggi pada usia anak-anak (2-10 tahun). Mereka terserang diare akibat bakteri atau virus rotavirus. “Lalat paling sering menyebabkan diare dan tipus pada anak karena itu dianjurkan untuk vaksin rotavirus,” katanya.

Vaksin Rotavirus merupakan langkah untuk melindungi bayi dan anak-anak dari penyakit gastroenteritis (radang pada lambung dan usus) seperti diare, muntah, demam, anak sulit makan hingga sakit perut. Vaksin ini dianjurkan karena rotavirus sangat mudah menyebar melalui kontak fisik dari orang ke orang. Inilah mengapa, orang tua maupun perawat anak harus mencuci tangan terlebih dahulu saat akan mengganti popok.

Vektor lainnya yakni kecoa yang jika bertebaran di rumah tidak hanya membuat kita malu secara sosial. Diketahui jika bakteri Pseudomonas Aeruginosa berkembang biak secara ekstensif dalam usus kecoa. Bakteri ini menyebabkan infeksi saluran kemih, masalah pencernaan, dan sepsis (keracunan darah) hingga alergi. Kita juga bisa menderita ruam kulit, bersin, mata berair akibat sekresi (proses pengeluaran substansi kimia berbentuk lendir) air liur kecoa.

Cuci Tangan 6 Langkah

Lantas, apa yang bisa dilakukan agar penyakit-penyakit di atas tidak menyerang? Jawabannya begitu simpel. Pertama pilah dan bersihkan sampah, kedua cucilah tangan dengan benar mengikuti 6 langkah yang dianjurkan oleh WHO (World Health Organization). Jangan lagi mencuci tangan hanya sekedar basah karena masih menyisahkan bakteri 3-5 persen.