Hati-hati! Ini 5 Bakteri Penyebab Keracunan Makanan

Sebagian besar kasus keracunan makanan merupakan kasus ringan, yang berlangsung dari satu sampai tiga hari. Ironisnya, meski tergolong kasus ringan − banyak orang yang tidak melakukan perawatan medis sehingga keracunan makanan yang mereka alami tidak terdiagnosis. Jika penyakit keracunan makanan tidak segera ditangani dan tidak didiagnosis bisa berakibat fatal terhadap kesehatan bahkan mengakibatkan Kematian.

Bakteri adalah salah satu penyebab umum keracunan makanan. Gejalanya bervariasi tergantung pada jenis bakteri penyebabnya. Berikut adalah beberapa jenis bakteri yang paling sering menyebabkan keracunan makanan, di antaranya:

1. Salmonella

Salmonella biasanya ditemukan pada daging unggas, telur, daging sapi, serta susu yang tidak dipasteurisasi. Infeksi bisa terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi atau tidak dimasak dengan sempurna.

Gejala infeksi Salmonella meliputi diare, demam, dan kram perut yang muncul dalam waktu enam jam hingga enam hari setelah terpapar. Meskipun kebanyakan orang sembuh tanpa pengobatan, infeksi ini dapat berbahaya bagi bayi, lansia, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

2. Escherichia Coli (E. coli)

E.Coli adalah kelompok bakteri yang sebagian besar tidak berbahaya dan hidup di usus manusia. Namun, beberapa strain (tipe) tertentu seperti E. coli O157:H7 dapat menghasilkan toksin kuat yang merusak lapisan usus, bahkan menyebabkan diare berdarah.

Infeksi E. coli sering dikaitkan dengan konsumsi daging sapi giling yang kurang matang, susu mentah, dan sayuran mentah yang terkontaminasi. Gejalanya biasanya muncul dalam tiga hingga empat hari setelah terpapar, yang mencakup diare, kram perut, dan muntah. Pada kasus yang lebih parah, infeksi dapat berkembang menjadi sindrom uremik hemolitik (HUS), kondisi serius yang memengaruhi ginjal.

Baca Juga:  Mengenal Kelebihan dan Kekurangan Stevia Sebagai Pengganti Gula

3. Campylobacter Jejuni

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Campylobacter termasuk dalam empat penyebab utama penyakit diare di seluruh dunia. Bakteri ini biasanya ditemukan pada unggas mentah atau kurang matang, susu mentah, dan air yang terkontaminasi.

Gejala infeksinya meliputi diare berdarah, demam, mual, dan kram perut, yang muncul dalam dua hingga lima hari setelah terpapar. Meskipun kebanyakan kasus sembuh tanpa pengobatan, infeksinya dapat menyebabkan komplikasi serius seperti sindrom Guillain-Barré atau gangguan autoimun yang memengaruhi sistem saraf.

4. Clostridium Perfringens

Clostridium Perfringens bisa memicu keracunan makanan, terutama jika daging atau unggas disimpan pada suhu yang tidak tepat setelah dimasak. Bakteri ini menghasilkan spora yang tahan panas dan dapat berkembang biak dengan cepat dalam kondisi hangat.

Gejala infeksi biasanya muncul dalam enam hingga 24 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, bisanya ditandai dengan diare dan kram perut. Infeksi ini jarang menyebabkan muntah atau demam dan umumnya sembuh dalam waktu 24 jam.

5. Listeria Monocytogenes

Listeria monocytogenes dapat menyebabkan listeriosis, infeksi serius yang berisiko tinggi bagi wanita hamil, bayi baru lahir, lansia, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Bakteri ini sering ditemukan pada makanan siap saji seperti daging olahan, keju lunak, dan susu yang tidak dipasteurisasi.

Gejala listeriosis meliputi demam, nyeri otot, mual, dan diare. Jika infeksi menyebar ke sistem saraf, maka bisa menyebabkan sakit kepala, leher kaku, kehilangan keseimbangan, atau kejang. Pada wanita hamil, infeksi dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, atau infeksi serius pada bayi baru lahir.