Film Bumi Manusia, Bukti Pribumi Menyetarakan Status Sosial

45

Penulis    : Ade Syaputra

Dokumentasi     : Doc. Falqon Pictures

Film Bumi Manusia adaptasi buku karya Pramoedya Ananta Toer resmi tayang  menjelang hari kemerdekaan yang lalu sangat menyita perhatian masyarakat. Gagasan cerita dari rumah produksi falcon picture ini untuk menggambarkan pergulatan cinta yang rumit di zaman kolonial, korban penderitaan orde baru, dan kelas strata sosial.

Film Bumi Manusia yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva de Jongh, Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, dan Donny Damara mampu membawa penonton bergelut dengan berbagai rasa sedih, marah, dan empati yang mendalam tentang Indonesia pada dahulu kala.

Penayangan ini juga untuk memeriahkan peringatan HUT kemerdekaan RI ke 74 tahun. Berkisah tentang cinta Minke. Seorang pribumi yang belajar di HBS ((Hogere Burger School), alias sekolah menengah umum untuk kaum Belanda dan para priyayi. dan Annelis, gadis cantik putri Nyai Ontosoroh dan Herman Mellema yang tumbuh di antara sekian banyak permasalahan sosial dan ketidakadilan di masa penjajahan Belanda.

Usaha Hanung Bramantiyo sebagai sutradara handal untuk membumikan kisah Bumi Manusia patut diapresiasi. Salman Aristo sebagai penulis naskahpun cukup lengkap menghadirkan alur cerita serta karakter-karakter. Film berdurasi tiga jam itu menyajikan momen-momen yang membuat pergolakan batin. Diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya menambah rasa nasionalisme namun sangat disayangkan masih ada penonton yang tidak berdiri ketika lagu dikumandangkan.

Selanjutnya momen pertemuan Annelies dan Minke, kekaguman Minke pada Nyai Ontosoroh, diskriminasi terhadap pribumi, tradisi dan adat istiadat kaum bangsawan pribumi, diskrimasi pendidikan kulit putih kepada pribumi, hingga perlawanan di pengadilan kulit putih.

Beberapa kutipan juga membuat penonton terhanyut suasana diantaranya adalah “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri,” tutur Nyai Ontosoroh dan “Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya,” kata Minke .