“Biasanya tamu-tamu pendaki asing suka kesini di hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Mereka juga datang dari berbagai negara, seperti Malaysia, Jepang, Rusia, Jerman, Portugal dan banyak lagi pastinya. Kadang juga mereka mendirikan tenda di badan-badan gunung untuk bermalam dan menanti sunrise di pagi hari,” kata Arif Naknuk, selaku local guide Berastagi.
CERITA RAKYAT MELEGENDA
Sama seperti gunung Tangkuban Perahu yang dikaitkan dengan kisah Sangkuriang mencintai ibu kandungnya, begitupun gunung Sibayak, selain pesona alamnya yang indah ternyata gunung Sibayak menyimpan legenda.
Gunung Sibayak diyakini masyarakat suku Karo sebagai Gunung Raja, ini disebabkan dulunya ada seorang kakak beradik yang menemukan dua kepal emas murni di dalam peti. Namun nyawa mereka sama-sama berakhir sebelum menikmati hasil dari penjualan emas tersebut karena kecerobohan mereka.
Ada lagi legenda Suara Neraka, yang kerap muncul seperti gemuruh saat mendaki gunung Sibayak. Menurut warga yang tinggal di sekitar kaki gunung Sibayak, suara aneh tersebut dikenal sebagai legenda “Suara Neraka”. Konon menurut cerita yang berkembang, ada seorang dukun sakti yang tinggal bersama anak perempuannya. Sang putri pun meninggal karena sakit yang dideritanya tak kunjung terobati. Lantas suara gemuruh itulah yang dianggap sebagai tangisan keduanya.
Terlepas dari legenda tersebut, beberapa peneliti asal Jepang pernah melakukan observasi. Mereka pun berkesimpulan bahwa gelombang tersebut adalah suara angin berfrekuensi rendah yang mengandung elektromagnetik. Gelombang tersebut juga dianggap bisa menyebabkan stres hingga halusinasi.
Namun dibalik semua cerita zaman dahulu, suku Karo yakin gunung Sibayak memiliki jiwa dan perasaan, sehingga masyarakat selalu menghimbau setiap pengunjung agar selalu menjaga kebersihan, berlaku sopan dan bertutur kata yang baik.

