Crinoline – Gaun Era Victoria Tewaskan Ribuan Wanita

29

Medan, KoverMagz – Di inggris pada aban ke 19 an memiliki ragam gaya busana yang sangat unik dan terlihat begitu mewah yang mana gaun nya itu di buat seramping mungin dan bawahan megar. Gaun tersebut biasa nya di pakai oleh wanita inggris pada saat jamuan makan malam atau juga pada saat sedang berpesta dansa, dan oarang yag menggunakan gaun tadi adalah kaum – kaum elit yang ada.

Gaun era victoria, yakni 1800-an hingga 1901, para wanita mengenakan pakaian dalam yang disebut crinoline. Pakaian dalam ini adalah sejenis petticoat atau rok dalaman yang biasa dipakai di bawah gaun.

Crinoline yang terbuat dari rambut kuda jadi salah satu item fashion paling trendi pada zaman kekuasaan Ratu Victoria itu. Alih-alih pakaian dalam, crinoline sebenarnya lebih berbentuk seperti rangka karena strukturnya yang kaku.merupakan gaun yang sangat cantik memiliki dalaman yang berlapis – lapis di tabah dengan krinolin, jika dilihat seperti tempat mengurung ayam. Tujuan adalah supaya para wanita yang mengenakan gaun ini akan terlihat cantik ramping dan elegan. Model yang di gunakan begitu berkelas dan memiliki bahan yang sangat beragam seperti di bordir, hiasan ppita – pita dan renda – renda. Saat wanita inggris memakai gaun ini akan terlihat ramping karena desain bagian atas gaun sampai dengan pinggang di buat seperti jam pasir. Pada perkembangannya, rambut kuda digantikan dengan katun yang dipadatkan, kemudian diganti lagi dengan bahan metal dan dibentuk seperti ‘kandang’ seperti yang kita ketahui sekarang ini. Crinoline dipakai dibawah rok dalaman, dilapis lagi dengan rok atau gaun.

Tetapi di samping itu ada hal yang lumayan horror dibalik gaun ini. Gaun ini memiliki sebutan dressed to kill, Karena sebenarnnya orang yang memakai gaun ini sangatlah tersiksa,  dimana pemakai nya bisa terbunuh secara perlahan. Yang tercatat pada sejarah sudah banyak wanita bahkan hingga ribuan orang yang meninggal akibat dari pemakaian gaun tersebut.

1. Pengabaian rasa nyaman

Busana yang trend di dalam era victoria mengatakan banyak wanita yang masih mengabaikan rasa nyaman dari apa yang mereka pakai. Maka dari itu bisa di katakan bahwa menggunakan crinoline cuma pencitraan saja dari wanita , demi mendapatkan apa yang mereka ingin kan seperti agar bisa memikat orang hingga tertuju pada si wanita tersebut. Pada jaman victoria banyak wanita yang terkena krinolinemania, yang mana bisa di sebut dengan wabah atau penyakit yang mematikan yaitu seseorang yang sangat tergila – gila dengan crinoline.

Her gown was very large, bothe the slevys and also the body with many plightes.

Gaun yang mereka pakai merupakan gaun panjang dengan kondisi yang sangat kaku, di buat dari bulu kuda dan kapas, model daleman tersebut di temukan di th 1840. Menurut para sejarawan fashion, ada sebuah nama farthingale yang di buat oleh spanyol di abad 16, yang mana fathingale merupakan pendahulu dari krinoline.

Rok yang lebar dan memiliki volum ini sangat di sukai oleh para wanita di spanyol, bahkan ratu kastile Joana sangat bangga saat ia memperkenalkan busana tersebut di istana. Crinoline  di kenal oleh inggris saat istri pertama dari king henru ke 8 memakai farthingale yang di buat dari rotan.

Di tahun pertama pada 1800 an, rok itu di kembangkan lebih besar dengan berbentuk bulat, para wanita yang menyukai nya melebarkan rok bagian bawah dengan menambah lapisan – lapisan yang ada. Pada kenyataannya gaun ini sangat membuat gerakan wanita menjadi terbatas, dan membuat tidak nyaman kaun wanita. 

Jadi, pada saat krinoline telah di temukan, wanita – wanita era victoria pun menjadi lega dan tenang. Mengapa demikian ? Karena crinoline tidak seberat farthingale, dan krinolin sendiri bisa menyesuaikan bentuk badan.

Baca Juga:  INVASI BATAS UTARA, ALBUM KEDUA DAN PENANDA KEMBALINYA VINTAGE GLASSES

2. Terdapat demam Crinoline yang melanda kaun wanita

Majalah punch merilis nama crinoline untuk pertama kali di tahun 1800 an. Salah satu model yang sangat terkenal yakni cage crinoline yang mana di patenkan pertama kali di tahun 1856 di paris oleh Milliet. Seorang agen nya lantas membawa gaun itu ke inggris dan lalu gaun itu jadi tren hanya dengan waktu 1 malam saja. Crinoline di buat dari baja yang kuat dengan sebuah kelenturan yang memberi keluasan gerak untuk si pemakai nya, sehingga di pemakai gaun ini bisa duduk.

Akhirnya krinoline di produksi secara besar – besaran, gaun ini bisa di gunakan oleh wanita mana pun dan tidak memandang kasta, untuk melakukan kegiatan sehari – hari, wanita wanita tersebut memakai crinoline dengan ukuran yang kecil, nah untuk crinoline yang besar biasa nya di gunakan pada saat acara tertentu saja.

3. Gaun anggun yang sangat mematikan

Crinoline merupakan suatu hal yang bagus , namun di balik kelebihan dari krinoline, ternyata terdapat kekurangan yang ada. Dan untuk kamu ketahui, kekurangan krinolin ini sangat lah besar. Yang pertama adalah gaun ini tak bisa di gunakan di saat musim panas, banyak yang menyebutkan bila menggunakan gaun ini di tengah terik nya sinar matahari, wanita itu disebut seperti sedang bunuh diri, yang kedua gaun ini termasuk berbahaya bila sang wanita diam dekat lilin, seperti kejadian di Philadelphia pada jaman itu, sembilan balerina terbunuh gara-gara busana yang dikenakan salah satu dari mereka tersambar api lilin di Continental Theater

Selain jadi sulit berjalan dan terasa panas karena harus memakai berlapis-lapis baju, risiko kematian juga tinggi. Crinoline terbuat dari bahan yang sangat mudah terbakar. Dikutip dari Elite Readers, tak kurang dari 3.000 wanita tewas karena terbakar saat memakainya karena bahannya sangat mudah terbakar, sedikit saja percikan mengenai gaun, api akan langsung menyebar dan membakar dalam hitungan detik.

Pada 1858, seorang wanita asal Boston tewas terbakar saat rok yang dikenakannya terkena api dari perapian di rumahnya. Lalu pada 1863, seorang pelayan tewas akibat luka bakar parah setelah gaunnya terkena api saat ia ingin mengambil seperangkat alat makan di dapur.

Kasus yang tak kalah mengerikan, sembilan ballerina terbunuh setelah salah satu dari mereka menyalakan lilin saat tampil di Continental Theater. Sementara itu di Inggris, dilaporkan ada 19 kematian akibat crinoline yang terbakar hanya dalam kurun waktu dua bulan. Api yang menyebar begitu cepat membuat para korban tidak sempat menyelamatkan diri maupun minta pertolongan.

Sementara, pada Februari 1863, crinoline yang dipakai Margaret Davey, seorang pelayan dapur berusia 14 tahun, terbakar karena api tungku yang menyambar tubuhnya. Ia tewas seketika.

Di Inggris, selama periode dua bulan, 19 kematian dikaitkan dengan crinoline yang terbakar. Di sisi lain, para wanita yang jadi saksi peristiwa tragis itu tak bisa berkutik, mereka takut rok mereka sendiri juga ikut terbakar saat menolong korban.

Anda yang hidup di zaman sekarang bisa bernapas lega. Crinoline kini bukan lagi benda ‘wajib’ untuk dipakai para wanita. Kejayaan crinoline lenyap di akhir era 1800-an dan sekarang hanya dipakai untuk acara tertentu seperti pertunjukan teater, karnaval atau pesta kostum. Bahannya pun dibuat dari material yang lebih nyaman dan tak mudah terbakar.

Penulis : Annette Thresia Ginting

Sumber : Berbagai sumber