Catat! 5 Bahan Berbahaya yang Sering Ada di Skincare Oplosan

Hal paling utama saat memilih skincare adalah sebaiknya perhatikan kandungannya terlebih dahulu. Karena ada beberapa kandungan skincare yang memiliki dampak buruk untuk wajah kamu lho. Jika salah memilih produk, bukannya mendapatkan wajah glowing, tapi kamu justru mendapatkan masalah-masalah baru pada wajah.

Ya, tidak sedikit penelitian yang menyebutkan bahwa terdapat kandungan-kandungan dalam skincare yang justru bisa menyebabkan masalah kesehatan. Kandungan ini akan berdampak serius jika digunakan secara terus-menerus. Selain itu, kandungan berbahaya pada skincare juga bisa menimbulkan penyakit baru pada wajah ataupun anggota tubuh lainnya.

Jadi sebaiknya sebelum memilih skincare, pastikan tidak terdapat bahan-bahan yang berbahaya. Apalagi maraknya skincare oplosan yang beredar di Indonesia, sebaiknya kamu berhati hati!

Lantas apa saja ya bahan berbahaya dalam skincare yang perlu dihindari? Simak yuk dalam artikel berikut!

1. Merkuri

Merkuri adalah salah satu bahan berbahaya yang paling sering ditemukan dalam skincare oplosan, terutama produk pemutih kulit. Meskipun mampu memberikan efek mencerahkan dalam waktu singkat, merkuri tergolong logam berat yang sangat toksik bagi tubuh manusia.

Paparan merkuri melalui kulit dapat menyebabkan iritasi, ruam, perubahan warna kulit, dan jaringan parut. Lebih jauh lagi, merkuri mampu menembus lapisan kulit dan masuk ke dalam aliran darah, menumpuk di ginjal dan sistem saraf pusat.

Akibatnya pengguna bisa mengalami gangguan ginjal, tremor, gangguan memori, insomnia, dan gangguan perkembangan janin pada ibu hamil. Dalam banyak kasus, gejala-gejala tersebut muncul setelah penggunaan jangka panjang.

2. Hidrokuinon

Hidrokuinon adalah zat pencerah kulit yang bekerja dengan menghambat produksi melanin. Dalam dosis rendah dan di bawah pengawasan dokter, hidrokuinon bisa bermanfaat untuk mengatasi hiperpigmentasi. Namun, dalam skincare oplosan, zat ini sering digunakan dalam dosis tinggi yang justru dapat menyebabkan efek bahaya.

Salah satu efek samping paling serius adalah eksogen ochronosis, kondisi kronis yang menyebabkan kulit menghitam kebiruan secara permanen, terutama pada area wajah. Selain itu, hidrokuinon juga dapat memicu iritasi, peradangan, dan reaksi alergi.

Baca Juga:  Catat! Ini 5 Kesalahan Makeup yang Bikin Wajah Tampak Lebih Tua

3. Kortikosteroid

Kortikosteroid seperti clobetasol propionate sering ditemukan dalam krim pemutih oplosan karena efek anti-inflamasinya yang bisa membuat kulit tampak lebih halus dan cerah dalam waktu singkat.

Namun, penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan kulit menipis (atrofi), timbul stretch mark, jerawat parah, hingga pembuluh darah yang tampak jelas di permukaan kulit.

Lebih parahnya lagi, kortikosteroid dapat terserap ke dalam tubuh dan menyebabkan gangguan sistem hormonal, termasuk supresi adrenal atau berhentinya produksi hormon alami tubuh, sampai tekanan darah tinggi

4. Resorsinol

Resorsinol merupakan bahan kimia yang biasa digunakan untuk eksfoliasi atau pengelupasan kulit. Dalam dosis yang sangat kecil, resorsinol bisa digunakan dalam produk dermatologis tertentu.

Namun dalam produk oplosan, resorsinol seringkali digunakan dalam jumlah yang tidak aman dan tanpa kontrol medis. Efek samping yang paling umum termasuk iritasi kulit berat, kemerahan, sensasi terbakar, dan bahkan luka bakar ringan. Selain itu, dapat menyebabkan reaksi alergi dan dermatitis kontak pada sebagian orang.

Resorsinol juga diketahui bersifat goitrogenik, yakni bisa mengganggu fungsi kelenjar tiroid dengan menurunkan produksi hormon tiroid (T3 dan T4), terutama jika diserap dalam jumlah besar melalui kulit. Efek sistemik ini sangat berbahaya karena bisa memengaruhi metabolisme tubuh secara keseluruhan.

5. Paraben

Paraben adalah kelompok bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet dalam produk kosmetik untuk mencegah pertumbuhan mikroba. Secara umum bahan ini dianggap aman dalam konsentrasi rendah, tapi jika digunakan dalam jumlah banyak dapat menjadi masalah.

Beberapa jenis paraben, seperti propylparaben dan butylparaben, diketahui memiliki sifat menyerupai hormon estrogen dalam tubuh. Apabilaa digunakan dalam jumlah berlebih, zat ini dapat mengganggu sistem endokrin dan dikaitkan dengan penurunan kesuburan, gangguan hormon, bahkan risiko kanker payudara.