“Dulunya orangtua berfikir mungkin saya akan hidup lebih santai dan berpenghasilan besar dengan bekerja sesuai sekolah saya. Akhirnya setelah melihat perkembangan usaha, orangtua mendukung penuh,” ujarnya
Berjalannya waktu, tatkala costumer mulai banyak, mulai lah muncul hardikan sinis tentangnya, seperti kata pepatah lama, semakin tinggi pohon, semakin kencang juga angin berhembus. “Mulai banyak yang menghujat, bilang aku cuma memanfaatkan budaya adat Karo, lalu bilang seberapa banyak sih penyuka baju khas Karo, tapi tekadku semakin bulat sejalan dengan banyak pesanan, sebab Rumah Uis ada karena adanya permintaan,”ucapnya.
Bersenandung Nyayian Karo
Bukan perempuan Karo namanya jika tak punya segudang talenta, selain ide cemerlang melahirkan Rumah Uis, Ave juga harum namanya sebagai penyanyi, akunya. Sedari kecil ia sudah suka dengan dunia tarik suara. “Dari kecil memang sudah suka nyanyi, lagu-lagu pop yang paling dominan untuk dinyanyikan,” ucapnya.
Dari sekian banyak lagu yang sudah dinyanyikan, Pio-Pio lagu traditional Karo yang paling susah untuk dinyanyikannya, “Pembuatan video klipnya makan waktu tiga minggu, lama memang tapi lagu itulah pertama kali saya masuk studio rekaman, pertama kali kenal industri musik dan bahasa karo saya masih berantakan, belum tepat pelafalannya,” tambah perempuan Karo tersebut.
Hingga saat ini, terhitung sudah ada 15 lagu berbahasa Karo yang ia telurkan dan seluruh karyanya lebih difokuskan rekaman untuk konsumsi di sosial media saja, Parbual adalah lagu teranyarnya, yang sudah dinikmati 500.000 viewer di chanel Youtube-nya. “Walau saat ini sedikit yang mau menyanyikan lagu karo, tapi banyak dari penyanyin- ya berkualitas, karena saya yakin musik Karo tidak akan mati, sebab orang-orang seperti saya akan terus lahir,” imbuh Ave.
Selain Rumah Uis, dengan bernyanyi pun ia coba tularkan pentingnya melestarikan budaya, “Berpikir global bukan berarti kita harus mengabaikan budaya kita, bahkan kita harus memikirkan bagaimana membawa budaya kita agar bisa dikenal secara global,” tambahnya.
Diakuinya juga, memang mempelajari sejarah adalah hal membosankan, untuk itu ia hadir dengan cara baru dengan kesan yang lebih fashionable “Misalkan dengan memperkenalkan baju adat lewat sentuhan pakaian trendy, orang pasti akan lebih tertarik dan akan mencari tahu tentang sejarah baju itu,”ajaknya.
Jadi, ia menekankan bahwa dirinya hanya jadi pemicu untuk lahirnya kesadaran sendiri memilih jalan mer- eka, agar mau kembali mengenal budaya. Alumni Sastra Indonesia di Universitas Padjajaran. Juga punya mimpi besar untuk perempuan Karo lainnya.
“Harus lebih apresiasi terhadap apa yang kita miliki, yakni budaya. Juga perempuan itu harus berani eksplorasi dan unjuk diri, sebab saat ini tidak boleh lagi mengeluh tak bisa mengerjakan sesuatu karena alasan gender, malah sudah saatnya perempuan selangkah lebih maju,” tutur penerima penghargaan Perempuan Inspiratif Nova (PIN) 2017 tersebut.


