
Dalam beberapa tahun terakhir, tren gaya hidup sehat telah mengubah cara banyak orang memilih makanan dan minuman. Jika dulu secangkir kopi hitam menjadi pilihan utama untuk memulai hari, kini muncul dua minuman yang sering disebut sebagai alternatif lebih sehat, yaitu matcha dan mushroom coffee.
Di media sosial, keduanya kerap dipromosikan sebagai minuman yang mampu meningkatkan energi, menjaga fokus, hingga mendukung kesehatan tubuh. Tidak sedikit influencer, atlet, hingga pekerja kantoran yang mulai mengganti kopi biasa dengan salah satu dari dua minuman ini. Namun, apakah klaim tersebut benar-benar didukung oleh penelitian? Atau justru hanya bagian dari tren yang sedang viral?
Sebelum Anda ikut memilih salah satunya, ada baiknya mengetahui fakta ilmiah di balik matcha dan mushroom coffee. Jawabannya mungkin tidak seperti yang selama ini Anda bayangkan.
Apa Itu Matcha?
Matcha adalah bubuk teh hijau yang berasal dari Jepang dan dibuat dari daun teh berkualitas tinggi. Berbeda dengan teh hijau biasa yang hanya diseduh, matcha dikonsumsi bersama seluruh bubuk daunnya sehingga kandungan nutrisi dan antioksidannya lebih tinggi.
Salah satu senyawa yang membuat matcha begitu populer adalah L-theanine, yaitu asam amino alami yang dapat membantu meningkatkan rasa tenang sekaligus mempertahankan konsentrasi. Saat dikombinasikan dengan kafein alami, efeknya dipercaya mampu menghasilkan energi yang lebih stabil tanpa menyebabkan rasa gelisah berlebihan seperti yang kadang dirasakan setelah minum kopi.
Selain itu, matcha juga kaya akan epigallocatechin gallate (EGCG), salah satu antioksidan paling kuat yang telah banyak diteliti karena potensinya membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
Apa Itu Mushroom Coffee?
Meski namanya mengandung kata “mushroom”, mushroom coffee bukanlah kopi yang dicampur jamur masakan. Minuman ini merupakan perpaduan kopi dengan ekstrak jamur fungsional seperti Lion’s Mane, Reishi, Chaga, atau Cordyceps. Jamur-jamur tersebut telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di beberapa negara Asia karena dipercaya memiliki berbagai manfaat kesehatan.
Sebagian besar produk mushroom coffee mengandung kafein lebih rendah dibanding kopi biasa karena sebagian bubuk kopi digantikan dengan ekstrak jamur. Banyak produsen mengklaim mushroom coffee dapat meningkatkan daya tahan tubuh, membantu fokus, mengurangi stres, bahkan meningkatkan energi. Namun, penting untuk dipahami bahwa sebagian besar manfaat tersebut masih didasarkan pada penelitian terhadap ekstrak jamur, bukan terhadap produk mushroom coffee yang telah dipasarkan.
Perbandingan Matcha vs Mushroom Coffee
- Kandungan Kafein
Jika Anda sensitif terhadap kafein, perbedaan ini cukup penting. Matcha umumnya mengandung sekitar 38–88 mg kafein per sajian, tergantung jenis dan cara penyajiannya.
Sementara mushroom coffee biasanya mengandung sekitar 40–60 mg kafein, lebih rendah dibanding kopi biasa yang rata-rata mencapai 95 mg per cangkir. Bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi kafein tanpa berhenti minum kopi, mushroom coffee bisa menjadi pilihan menarik.
- Energi dan Fokus
Matcha sering dipilih oleh pekerja kantoran, mahasiswa, maupun pekerja kreatif karena kombinasi kafein dan L-theanine menghasilkan energi yang lebih stabil. Banyak orang melaporkan dapat tetap fokus lebih lama tanpa mengalami penurunan energi secara drastis beberapa jam kemudian.
Di sisi lain, mushroom coffee juga diklaim membantu meningkatkan fokus, terutama karena kandungan Lion’s Mane yang sedang banyak diteliti terkait kesehatan otak. Namun hingga kini, bukti ilmiah pada manusia masih belum sebanyak penelitian mengenai matcha.
- Kandungan Antioksidan
Dalam hal antioksidan, matcha memiliki keunggulan yang cukup jelas. Karena seluruh daun teh dikonsumsi dalam bentuk bubuk, kandungan antioksidan pada matcha jauh lebih tinggi dibanding teh hijau biasa. Antioksidan membantu melindungi sel tubuh dari stres oksidatif yang berkaitan dengan proses penuaan dan berbagai penyakit kronis.
Sementara itu, jamur seperti Chaga dan Reishi juga mengandung antioksidan. Namun, jumlah senyawa aktif yang terdapat dalam mushroom coffee sangat bergantung pada formulasi masing-masing produk.
- Efek terhadap Lambung
Banyak orang memilih mushroom coffee karena merasa kopi biasa membuat lambung tidak nyaman. Dengan kandungan kafein yang lebih rendah, sebagian orang mengaku mushroom coffee terasa lebih ringan di lambung.
Matcha juga memiliki tingkat keasaman yang lebih rendah dibanding kopi sehingga sering menjadi alternatif bagi mereka yang sensitif terhadap minuman berkafein tinggi. Namun, respons setiap orang bisa berbeda tergantung kondisi kesehatan dan pola makan masing-masing.
Apakah Mushroom Coffee Benar-Benar Lebih Sehat?
Inilah pertanyaan yang paling sering muncul. Jawabannya adalah belum tentu. Meskipun berbagai produk mushroom coffee menawarkan banyak klaim kesehatan, para ahli menilai penelitian terhadap produk jadi mushroom coffee masih relatif terbatas.
Sebagian besar penelitian yang ada dilakukan terhadap ekstrak jamur tertentu, bukan terhadap campuran kopi dan jamur yang dijual di pasaran. Artinya, manfaatnya memang menjanjikan, tetapi masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar dapat dipastikan secara ilmiah.
Lalu, Apakah Matcha Lebih Unggul? Jika melihat jumlah penelitian yang tersedia saat ini, jawabannya cenderung ya. Matcha telah diteliti selama bertahun-tahun terkait kandungan antioksidan, efek terhadap konsentrasi, kesehatan jantung, hingga metabolisme tubuh.
Namun, bukan berarti matcha cocok untuk semua orang. Matcha tetap mengandung kafein. Jika dikonsumsi berlebihan, minuman ini tetap dapat menyebabkan gangguan tidur, jantung berdebar, atau rasa cemas pada sebagian orang.
Selain itu, banyak minuman matcha kekinian yang dijual di kafe mengandung tambahan gula, sirup, dan krimer dalam jumlah tinggi. Kandungan tersebut justru dapat mengurangi manfaat kesehatannya.
Jadi, Mana yang Lebih Sehat?
Jika pertanyaannya adalah “Matcha vs Mushroom Coffee, mana yang lebih sehat?”, jawabannya bergantung pada tujuan Anda. Bila mengacu pada bukti ilmiah yang tersedia saat ini, matcha memiliki dukungan penelitian yang lebih kuat dibanding mushroom coffee. Kandungan antioksidan yang tinggi, kombinasi kafein dan L-theanine, serta berbagai penelitian mengenai manfaat kesehatannya menjadikan matcha sebagai pilihan yang lebih meyakinkan.
Di sisi lain, mushroom coffee tetap menarik sebagai inovasi minuman fungsional. Produk ini dapat menjadi alternatif bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi kafein sambil menikmati cita rasa kopi. Meski demikian, banyak klaim manfaatnya masih memerlukan penelitian lanjutan.
Pada akhirnya, tidak ada satu minuman yang dapat menggantikan pentingnya pola makan bergizi seimbang, olahraga teratur, tidur yang cukup, dan gaya hidup sehat secara keseluruhan. Jadi, apakah Anda tim matcha atau justru penasaran ingin mencoba mushroom coffee?


