10 Kuliner Khas Betawi Hasil Akulturasi Budaya China, Bukan Hanya Gohyong yang Viral!

Sebelum berubah menjadi kawasan metropolitan yang elit, Jakarta dulunya sangat kental dengan adat Betawi. Daerah yang ini telah didiami oleh masyarakat Suku Betawi sejak abad ke-17 itu juga dikenal sebagai suku multi etnis. Jangan heran jika tradisi dan kuliner khas Betawi mendapat pengaruh banyak budaya dari negara yang pernah singgah, mulai dari Arab, Belanda, Portugis, hingga China.

Sebut saja salah satunya ialah beberapa kuliner khas Betawi. Tahukah anda bahwa kuliner khas Betawi yang terkenal akan cita rasa yang lezat saat ini ternyata merupakan hasil akulturasi budaya dengan China loh. Selain itu masih ada pula yang merupakan hasil akulturasi budaya lainnya. 

Nah, lantas, apa saja kuliner Betawi yang tak sepenuhnya berasal dari Tanah Air, melainkan ada campur tangan negara lain? Melansir dari berbagai sumber, berikut daftarnya. Simak!

Gohyong

Tentunya pasti sudah familiar dengan gohyong, kan? Makanan khas Betawi ini sempat viral di media sosial karena bentuknya yang unik mirip rolade yang renyah, namun disajikan dengan siraman kuah khasnya.

Usut punya usut, gohyong bukanlah kuliner asli Tanah Air, melainkan makanan hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Betawi. Gohyong, berasal dari kata “ngo-hiang” atau “ngohiong” dalam bahasa Hokkian, yang berarti “lima rempah”, merujuk pada campuran bumbu yang digunakan dalam pembuatannya.

Ada berbagai cara pengolahannya seperti dipanggang, dikukus, dan digoreng. Gohyong yang digoreng menjadi salah satu yang populer di masyarakat. Teksturnya renyah di luar dan lembut di dalam, dengan isian daging cincang melimpah yang kaya rasa bumbu. Semakin nikmat, gohyong biasanya disantap dengan saus khas yang asam manis dan irisan cabe rawit hijau membuatnya digemari banyak orang.

Asinan Betawi

Asinan Betawi merupakan kuliner khas betawi yang enak dan menyegarkan. Berbeda dengan asinan Bogor yang biasanya terdiri dari buah-buahan, asinan Betawi justru terdiri dari berbagai sayuran segar seperti kol, sawi, tauge, dan tahu putih yang disiram dengan kuah bumbu kacang kaya rasa.

Dalam penyajiannya, asinan Betawi juga sering ditambahkan kerupuk mie kuning dan kacang tanah goreng sebagai pelengkapnya. Perpaduan sayuran segar, dengan kuah bumbu kacang yang asam, pedas, manis, dan gurih terasa begitu nikmat di lidah.

Dinamakan “asinan” karena makanan ini dipengaruhi oleh cara memasak masyarakat Tionghoa Kuno, terutama dalam teknik pengasinan sayuran. Proses pengawetan makanan dengan merendam dalam larutan garam atau cuka, atau dikenal sebagai fermentasi.

Teknik ini kemudian diadopsi oleh masyarakat Betawi untuk membuat asinan Betawi. Tidak hanya membuat makanan lebih tahan lama, tetapi juga memberikan rasa dan aroma yang khas.

Soto Betawi

Siapa penggemar soto Betawi? Makanan berkuah santan kaya rempah ini merupakan salah satu kuliner ikonis Jakarta yang memiliki banyak penggemar. Meskipun dikenal sebagai makanan khas Betawi, soto Betawi ternyata berasal dari akulturasi budaya Tiongkok.

Istilah “soto” berasal dari bahasa Hokkien, “cau du” atau “sao du” yang memiliki arti hidangan berkuah berisi jeroan sapi atau babat. Saat masuk ke Indonesia, caudo awalnya berisi potongan daging babi. Namun menyesuaikan dengan mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Muslim, isian caudo diganti dengan daging sapi.

Soto Betawi yang kita kenal sekarang ini, rupanya telah mengalami banyak modifikasi serta penyesuaian rasa dan bahan sesuai dengan selera lokal. Meski lahir dari perpaduan budaya yang berbeda, soto Betawi kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan kuliner Nusantara.

Laksa Betawi

Terdapat perbedaan pendapat mengenai asal muasal laksa Betawi. Namun, penggunaan mi dan ebi (udang kering) jadi penanda bahwa makanan ini merupakan hasil akulturasi budaya Betawi dan Tionghoa. Beberapa bahan lainnya seperti kucai, kecap, dan kacang tanah, umumnya juga ditemukan dalam masakan Tionghoa.

Laksa Betawi biasanya disajikan dengan ketupat atau lontong. Ciri khasnya terletak pada kuahnya yang kaya rempah dengan perpaduan rasa gurih, asam, dan pedas. Beberapa penjual juga kerap menambahkan tauge, kemangi, dan potongan jeruk nipis, yang membuat rasanya semakin nikmat.

Sayur Babanci

Baca Juga:  Begini Efek Samping Yang Ditimbulkan Saat Minum Rebusan Daun Seledri

Sekilas, penampilan sayur ini mirip seperti sayur labu siam. Namun bedanya, sayur babanci tidak berisi sayuran melainkan lebih mirip gulai atau sup daging dengan kuah kental.

Nama “Babanci” diyakini berasal dari gabungan kata “baba”, yang berarti ayah dalam bahasa Betawi dan juga panggilan untuk pria dalam bahasa Tionghoa. Sedangkan kata “enci”, memiliki arti kakak perempuan dan bahasa Tionghoa. Selain makna akulturasi budaya, nama “Babanci” juga bisa merujuk pada ketidakjelasan jenis hidangan ini, apakah gulai, sup, atau opor.

Meski begitu, sayur babanci banyak digemari karena cita rasanya yang gurih dan kaya rempah. Biasanya disantap bersama ketupat, serta sering disajikan sebagai hidangan istimewa pada acara-acara penting seperti hari raya atau acara keluarga besar.

Nasi Ulam

Jika dilihat sekilas mungkin antara nasi ulam dan nasi uduk terlihat sangat mirip, terlebih keduanya sama-sama hidangan nasi khas Betawi. Namun yang membedakan kedua sajian ini adalah proses memasaknya, di mana nasi ulam tidak menggunakan santan melainkan berbagai bumbu dan rempah.

Namun usut punya usut, nasi yang biasanya disajikan dengan berbagai lauk pauk dan taburan serundeng atau kacang halus di atasnya ini memiliki pengaruh dari budaya Tionghoa, India dan Belanda.

Di awal kemunculannya, nasi ulam hanya populer di kalangan pedagang Betawi dan peranakan Indonesia-Tionghoa saja. Kini, nasi ulam kerap dikonsumsi sebagai menu sarapan, meskipun keberadaannya sudah jarang ditemukan.

Ketoprak

Salah satu hidangan khas Betawi, yang terkenal dengan bumbu kacangnya yang gurih ini sudah tak asing lagi bagi pecinta kuliner. Di balik kelezatannya, ketoprak merupakan makanan hasil akulturasi budaya Tionghoa.

Beberapa bahan yang digunakan seperti tauge, bihun, bawang putih dan kacang tanah dalam bumbu kacangnya diyakini terinspirasi dari kuliner Tiongkok, sehingga memperkuat bukti akulturasi makanan ini.

Selain itu, penggunaan ketupat dalam ketoprak juga terinspirasi dari bakcang, makanan tradisional Tiongkok yang terbuat dari nasi yang dibungkus daun kelapa dan diisi dengan berbagai isian.

Toge Goreng Betawi

Meskipun dalam penamaannya “goreng” sebenarnya makanan ini tidak digoreng menggunakan minyak, melainkan direbus atau ditumis dengan sedikit air sehingga menciptakan kesan “digoreng”.

Fakta lainnya, toge goreng yang dianggap sebagai makanan khas Betawi ini, ternyata merupakan hasil akulturasi budaya Betawi dan Tionghoa. Penggunaan bahan-bahan dan cara penyajiannya dianggap terinspirasi dari budaya Tionghoa. Mulai dari tauge, mie kuning, tahu, serta ketupat atau lontong sebagai pelengkapnya.

Tak hanya itu, penggunaan bumbu tauco dan oncom sebagai siramannya juga populer digunakan dalam masakan Tionghoa.

Rujak Juhi

Apakah anda pernah mendengar rujak juhi? Tampilannya sekilas memang mirip dengan asinan Betawi, tetapi sebenarnya kedua kuliner legendaris ini berbeda. Rujak juhi menggunakan bahan utama sotong kering (juhi) yang difermentasi, yang merupakan pengaruh dari kuliner Tionghoa.

Adapun campuran bahan-bahan lain seperti selada, kol, mentimun, kentang goreng, mie kuning, dan emping. Rujak juhi menggunakan bumbu kacang yang mirip dengan gado-gado. Cita rasanya cenderung unik, perpaduan rasa manis, asam, segar, dan gurih dari campuran juhi.

Bubur Ase

Berbeda dengan sajian bubur pada umumnya, bubur ase merupakan makanan tradisional masyarakat Betawi hasil akulturasi dengan tiga kebudayaan yaitu Tionghoa, Eropa, dan Timur Tengah.

Sajian ini berupa bubur nasi yang disajikan dengan kuah semur dan asinan, serta topping pelengkap seperti semur daging, tahu, tauge, kacang teri, dan telur. Sebagai pelengkap, biasanya diberi tambahan bawang goreng, kacang tanah goreng, dan kerupuk.

Perpaduan semur dan asinan dalam semangkuk bubur ase menciptakan cita rasa yang unik antara asin, manis, pedas, dan gurih sekaligus. Sebagian orang ada yang menyebut penamaan “ase” merupakan akronim dari asinan semur (ase).