“Semut Sumut sangat membantu. Anak putus sekolah ditampung mereka, tentunya dengan seleksi yang ketat atau yang benar-benar membutuhkan. Saya berasal dari Padang, Sumatera Barat. Dulunya saya merantau ke Medan untuk mengadu nasib, dengan harapan bisa melanjutkan pendidikan. Saya kerja serabutan, seperti mekanik di bengkel, jualan roti, hingga doorsmeer (tukang cuci sepeda motor atau mobil). Namun, setelah saya diterima di sini (Semut Sumut), saya dianggap seperti keluarga, dan mereka sangat tahu jiwa anak muda dan saya sangat betah di sini, apalagi saya diajari skill graphic design dan bisa melanjutkan pendidikan (kuliah),” ucap Willy.
Semut Sumut memiliki beberapa konsentrasi studi, di antaranya public speaking, graphic design, hingga videografi. Hal tersebut bertujuan untuk menghadapi kompetisi pendidikan yang sangat diperhitungkan hingga menuju dunia kerja. Yogi, Founder Semut Sumut mengutarakan, dengan masih banyaknya anak putus sekolah atau tidak memiliki dana untuk melanjutkan pendidikan, ia berharap Semut Sumut akan tetap ada untuk membantu anak putus sekolah.
“Kami berharap, dengan adanya Semut Sumut, bisa membantu generasi penerus bangsa, hingga nantinya, anak putus sekolah bisa mewujudkan mimpinya tanpa merasa minder,” ucap Yogi.


