“Dulu jamaah India Selatan tak sebanyak sekarang, masih sekitar 10 hingga 20 kepala keluarga (KK). Memang dulu, kami tidak mempunyai masjid khusus India Muslim. Namun, pada tahun 1887, Kesultanan Deli memberikan tanah hibah untuk mendirikan masjid khusus etnik India Muslim,” katanya.
Masjid yang didirikan pada tahun 1887 itu adalah masjid Jamik. Hingga saat ini, masjid yang sudah bermur ratusan tahun itu masih terjaga dengan baik dan gedung masjid masih menggunakan beton asli tahun 1887. Untuk saat ini, jamaah India yang tercatat di Yayasan India Muslim Selatan atau The South Indian Moslem Mosque and Walfare Committee adalah sebanyak 350 kepala keluarga. Perkembangan yang sangat pesat tersebut terjadi karena kemajemukan yang terjadi terjadi di kota Medan, dan tak menutup kemungkinan, dua atau tiga tahun mendatang jamaah India Selatan akan semakin bertambah karena toleransi etnik yang masih sangat terjaga.
Selain masjid Jamik, ada pula masjid Ghaudiyah yang dibangun pada tahun 1918 dan terletak di Jalan K. H. Zainul Arifin yang juga dinaungi Yayasan India Muslim Selatan. Masjid ini adalah masjid kedua yang dibangun khusus etnik India selatan. Masjid yang tak jauh dari Masjid Jamik ini, sudah memiliki banyak perubahan. Dulunya, masjid ini digusur sebanyak dua kali yakni pada tahun 1970 dan 2014. Penggusuran tersebut terjadi karena peleberan jalan di Jalan K.H Zainul Arifin. Masjid ini persis berada di samping pertokoan, dan akses jalan masuk ke masjid tersebut hanya melewati gang kecil yang memiliki panjang sekitar 5 meter dan lebar 2 meter. Bangunan masjid ini bukan lagi bentuk asli masjid yang dibangun pada tahun 1918.
TRADISI BULAN RAMADAN
Berbagi Makanan
Jika di India terdapat tradisi unik Pesta Iftar yang merupakan kegiatan berbuka puasa bersama muslim dan non muslim dengan tujuan untuk merangkul berbagai etnik, suku dan agama, di Medan sendiri warga India muslim juga melakukan tradisi berbagi makanan.


