Sederet Jejak Toleransi dan Aksi Peduli Kemanusiaan Paus Fransiskus

Paus Fransiskus melakukan kunjungan ke Masjid Istiqlal pada Kamis, 5 September 2024. Pertemuan ini menjadi salah satu bagian dari perjalanan Apostolik Paus Fransiskus, diakhiri dengan misa akbar di Gelora Bung Karno. Donny Fernando Donny Fernando 05-09-2024

Dunia kehilangan sosok penting dalam sejarah kemanusiaan dan keagamaan. Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik dunia, wafat pada usia 88 tahun, Senin (21/4), di kediamannya Casa Santa Marta, Vatikan.

Beberapa bulan terakhir, kesehatan beliau menurun drastis akibat pneumonia, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif selama 38 hari.

Kabar duka ini disampaikan oleh Kardinal Kevin Farrell melalui pernyataan resmi Vatikan. Misa penghormatan untuk Paus Fransiskus dijadwalkan berlangsung di Gereja Makam Suci, Yerusalem, Rabu (23/4), sebuah tempat yang sakral bagi umat Kristiani.

Semasa hidupnya, Paus Fransiskus dikenal sebagai simbol toleransi dan kepedulian lintas batas agama, bangsa, dan status sosial. Ia bukan hanya pemimpin umat Katolik, tetapi juga suara yang membela kemanusiaan.

Berikut lima jejak bersejarah Paus Fransiskus dalam memperjuangkan toleransi dan aksi nyata untuk kemanusiaan:

Penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia

Pada 2019, Paus Fransiskus bersama Imam Besar Al-Azhar, Ahmed Al-Tayeb, menandatangani “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama” (The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together). dalam sebuah upacara di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Dokumen ini menyerukan umat beragama di seluruh dunia untuk bekerja sama demi perdamaian, toleransi, dan hidup berdampingan secara harmonis. Selain itu, penandatanganan dokumen ini menjadi salah satu pertemuan bersejarah antara dua tokoh agama paling berpengaruh, yaitu pemimpin Gereja Katolik dunia Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb. Pertemuan ini menjadi langkah penting dalam dialog antaragama.

Bawa Pengungsi ke Vatikan

Pada 2016, Paus Fransiskus mengunjungi sebuah kamp pengungsi Suriah di Pulau Lesbos, Yunani.

“Kami datang untuk menarik perhatian dunia terhadap krisis kemanusiaan yang serius ini dan memohon penyelesaiannya,” kata Paus Fransiskus, dilansir dari NPR. “Kami berharap dunia akan memperhatikan situasi yang tragis dan sangat membutuhkan ini, dan menanggapinya dengan cara yang sesuai dengan kemanusiaan kita bersama.”

Tak hanya menunjukkan kepedulian terhadap pengungsi melalui kata-kata, Paus Fransiskus juga menyambut pengungsi Suriah di Vatikan. Di kunjungannya tersebut, Paus Fransiskus membawa 12 migran dari Suriah ke Vatikan, yang terdiri dari tiga keluarga, termasuk enam orang anak, yang semuanya Muslim.

“Paus ingin memberikan isyarat penyambutan terkait pengungsi,” kata Vatikan dalam sebuah pernyataan.

Menjamu Makan Siang Tunawisma

Paus Fransiskus terkenal sebagai sosok yang sangat peduli dengan rakyat kecil. Salah satu aksinya yang selalu dikenang adalah ketika ia makan siang dengan 300 tunawisma di Washington DC pada 2015. Di antara para tamu tersebut, terdapat ibu tunggal, korban kekerasan dalam rumah tangga, hingga orang-orang dengan disabilitas intelektual.

Tak hanya itu, Paus Fransiskus juga pernah makan siang bersama ribuan orang miskin, tunawisma, dan imigran untuk memperingati Hari Orang Miskin Sedunia di Vatikan, 17 November 2019.  Makan bersama dengan orang miskin telah menjadi tradisi Paus Fransiskus sejak ia menetapkan Hari Orang Miskin Sedunia pada 2017.

Kunjungan ke Indonesia: Hadir ke Masjid Istiqlal Jakarta-Bertemu Penyandang Disabilitas

Paus Fransiskus sempat bertandang ke Indonesia selama 4 hari pada 2024. Kunjungan Paus ke Indonesia memiliki pesan penting untuk merayakan perbedaan serta kerukunan antar umat beragama.

Selain memimpin Misa Agung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal juga menjadi salah satu momen tak terlupakan. Paus Fransiskus hadir di Masjid Istiqlal untuk bertemu dan berdialog bersama bersama tokoh lintas agama.

Bersama Imam Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, Paus Fransiskus mengunjungi terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta. Paus Fransiskus mengatakan terowongan itu sebagai simbol memperkuat persaudaraan.

“Kita kaum beriman yang berasal dari tradisi keagamaan yang berbeda-beda memiliki sebuah tugas untuk dilakukan. Membantu semua orang melewati terowongan ini dengan pandangan yang diarahkan menuju terang. Dengan demikian, di akhir perjalanan, kita akan mampu mengenal dalam diri mereka yang berjalan di samping kita seorang saudara seorang saudari yang dengannya kita dapat berbagi kehidupan yang saling mendukung satu sama lain,” kata Paus Fransiskus di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis (6/9), dilansir dari detikNews.

Selain itu, Paus Fransiskus juga bertemu dengan sejumlah penyandang disabilitas di kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta Pusat. Dari kunjungannya tersebut, Paus Fransiskus mengatakan bahwa penyandang disabilitas adalah bintang yang bersinar di langit.

“Kalian adalah bintang yang bersinar di langit nusantara ini, para anggota yang paling berharga dari gereja ini. Kalian harta karunia,” ucap Paus.

Desak Gencatan Senjata di Palestina

Paus Fransiskus juga termasuk sosok yang vokal dalam menyerukan perdamaian dan gencatan senjata di Palestina. Pada 29 Oktober 2023, dalam pidato Angelusnya, Paus Fransiskus menyerukan gencatan senjata di Gaza.

Dilansir dari Palestine Chronicle, ia mendesak agar bantuan kemanusiaan diizinkan masuk ke Gaza dan agar semua tawanan dibebaskan. Ia menekankan bahwa “Perang selalu merupakan kekalahan! Setiap perang adalah kekalahan!”

Pada April 2024, Paus Fransiskus mengutuk pembunuhan pekerja bantuan di Gaza oleh Israel dan kembali menyerukan gencatan senjata.

Berbicara di hadapan 25.000 orang di Lapangan Santo Petrus, Paus menyampaikan kesedihan atas tewasnya tujuh relawan World Central Kitchen, yang tewas akibat serangan Israel saat mengirimkan makanan di tempat yang telah ditetapkan sebagai “zona bebas konflik”.

“Saya menyampaikan penyesalan yang mendalam atas tewasnya para relawan saat mendistribusikan bantuan makanan di Gaza,” katanya.

Paus Fransiskus juga mengecam pengeboman anak-anak di Gaza, dan menyebutnya sebagai tindakan “kekejaman.”

“Kemarin, anak-anak dibom. Ini kekejaman, ini bukan perang,” ujar Paus.

Sebelum tutup usia, Paus Fransiskus tetap gencar menyerukan gencatan senjata di Gaza. Hal tersebut ia sampaikan saat muncul di hadapan publik pada perayaan Paskah di balkon utama Basilika Santo Petrus, Minggu (20/4).

Dilansir Reuters, pesan Paus Fransiskus itu dibacakan oleh seorang ajudan saat Paus, yang masih dalam pemulihan dari pneumonia, menyaksikan di balkon utama Basilika Santo Petrus. Paus Fransiskus mengatakan situasi di Gaza “dramatis dan menyedihkan”.