Percaya Diri dan Berani, Arif Siregar Tekuni Hobi hingga Lahirkan Karya

“Tahun 2007 pertama kali ikut lomba dari Topcoder, lombanya sejenis User Interface Design. Nah dari situ baru mulai berani dan terpikir untuk memulai bisnis sendiri,” tambahnya.

Jangan tanyakan berapa banyak perlombaan yang sudah Arif jalani begitu pun dengan berapa kali dirinya gagal memenangkan perlombaan tersebut.

“Awalnya memang coba-coba, modal nekat saja. Dari 2007 ikut lomba desain web, 2009 atau 2010 aku lupa ada expo kewirausahaan di kampus, semacam bantuan pembiayaan untuk karya kreatif gitu. Gagalnya udah pasti berulang kali. Intinya dari Digidoy terbentuk hingga bertahan saat ini itu ceritanya panjang,” tuturnya.

Meski mulanya dibentuk secara iseng, Arif berprinsip bahwa apa yang telah ia mulai harus diberi perhatian serius. Ia  fokus, Digidoy harus berkembang dan manajemen selain dibentuk juga diperbaiki. “Kita rekrut orang untuk manajemen, yang awalnya hanya dua orang bertambah menjadi tiga orang. Dari tiga orang kita rekrutmen lagi tapi khusus komikus untuk standarisasi. Sekarang dalam tim sudah ada lima orang,” jelasnya.

Percaya Diri dan Jangan Egois

Ilustrator di Kota Medan masih menjadi satu profesi yang belum begitu dilirik masyarakat. Namun Arif percaya, kelak industri kreatif di kota ini bisa berkembang layaknya di kota besar lainnya. Untuk itu, ia mendaftarkan hak cipta Digidoy ke Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Desember 2018 lalu. Arif juga percaya di era digital ini, kolaborasi karya menjadi satu hal penting. “Kita juga partner dengan Ciayo, sebuah platform komik digital. Kami buat komik untuk mereka dan Ciayo adalah salah satu wadah untuk Digidoy berkarya,” katanya.

Ia mengingatkan juga agar anak muda yang ingin terjun dan berkembang di industri ini agar menghilangkan dua sifat buruk seperti egois dan tak percaya diri. “Mungkin biasa, karena merasa punya jiwa seni tinggi kemudian merasa hebat dan bertahan dengan ego sendiri. Tepatnya ego dengan style-nya, merasa ini gayaku ini identitasku. Jika sudah masuk industri maka yang diikuti adalah keinginan pasar. Tidak bisa ngotot dan egonya harus dikontrol. Punya style tapi kalau tidak menguntungkan buat apa?” terangnya.

Selain memanajemen ego, rasa percaya diri juga harus dimiliki. Biasanya pemula akan merasa rendah diri dan tak yakin dengan hasil karyanya. Menurut Arif, minimnya rasa percaya diri tersebut menjadi salah satu penyebab industri kreatif komik tak terlalu berkembang di Medan.

“Gambarku belum bagus, kurang ini dan kurang itu. Ayo dong, setiap karya itu punya nilai. Ayo di-publish jangan takut jelek, kalau selalu disimpan dan jadi konsumsi pribadi maka karya jatuhnya hanya akan tersimpan di laptop atau lemari. Apa pun karyanya, publish dulu karena wadahnya juga sudah beragam. Bisa di sosial media sendiri atau lainnya. Ketika di publish karya akan dilihat orang lain, dari sana lah kita belajar apa-apa saja yang perlu ditingkatkan lagi,” pesannya.

Begitu pun dengan pemerintah, perhatian dan dukungan juga harusnya terus dilakukan. Komik termasuk dalam industri kreatif yang warnanya tak begitu terlihat di Medan. “Pemerintah harusnya support karya seni anak-anak Medan biar kotanya lebih berwarna. Predikat sebagai kota terkotor mungkin bukan cuma masalah sampah, tapi kreativitas kotanya yang tak terlihat. Jadi lebih banyak kelihatan sampahnya daripada kreativitas,” tambahnya.