Meski tak menemukan jurusan yang ia cari, Arif tak patah semangat. Mulai dari bergabung dan aktif di berbagai komunitas hingga mengikuti berbagai perlombaan, terus ia lakukan. “Waktu itu di Universitas Sumatera Utara (USU) ada jurusan Ilmu Komputer dan aku kira ada satu atau dua mata kuliah menggambar di komputer. Berharap sedikit tapi ternyata setelah lihat Kartu Rencana Studi (KRS), aku ngeluh. Ada pelajaran matematika lagi, fisika pulak. Seperti ‘zonk’ tapi tidak menyesal karena di situ aku jadi bersyukur bisa paham komputer, belajarnya benar-benar dari dasar,” ungkapnya.
Rajin Men-Challenge Diri Sendiri
Belajar sendiri atau autodidak menjadi satu-satunya cara Arif menekuni hobi menggambarnya. Ia lakukan dengan temen-temen lain yang juga memiliki minat dan ketertarikan serupa. Dua tahun kemudian, tepatnya di tahun 2006 ia menemukan Komunitas Devian Art dan bergabung di dalamnya.

“Kita selalu sharing dan dari situ juga sebenarnya aku mulai berani publish karya ke publik. Devian Art itu semacam komunitas maya untuk pembuat seni. Tujuannya selain menyediakan tempat memamerkan karya juga jadi ajang diskusiin karya. Dari situ mulai berani dijual ke teman-teman. Misalnya ada yang wisuda, aku buat merchandise-nya,” cerita pria yang juga menyukai dunia fotografi tersebut.
Setelahnya, Arif memberanikan diri untuk mengikuti berbagai kompetisi termasuk melalui media daring sekali pun. Ia ingat kompetisi pertama yang ia ikuti diselenggarakan oleh Topcoder, sebuah perusahaan crowdsourcing dengan komunitas global yang terbuka di seluruh dunia. Perusahaan ini terdiri dari para desainer, pengembang, ilmuwan data, dan programmer. Topcoder membayar tiap anggota komunitas untuk karya mereka.


