
Manusia makan untuk menghilangkan rasa lapar. Namun, ada sebagian dari kita yang makan demi mencari kenyamanan atau berlari dari ketidaknyamanan. Dalam dunia medis, hal ini dikenal sebagai emotional eating.
Emotional eating tidak hanya sekedar memuaskan rasa lapar secara fisik. Pasalnya, banyak orang menerapkan tabiat makan ini untuk meredakan rasa stres atau mengapresiasi diri sendiri. Misalnya, makan junk food atau cemilan setelah stres bekerja seharian.
Dengan adanya emotional eating, seseorang jadi cenderung tergoda untuk makan terus-menerus. Padahal, kondisi badan sebenarnya lagi nggak membutuhkan asupan makanan. Apabila dilakukan berlebihan, ini dapat menimbulkan berbagai risiko pada kesehatan tubuh.
Lapar emosional dan lapar fisik sering kali sulit dibedakan, tetapi keduanya memiliki ciri yang berbeda. Lapar fisik biasanya muncul secara bertahap dan bisa ditunda. Ketika sudah merasa kenyang, kita cenderung berhenti makan. Sementara itu, lapar emosional datang tiba-tiba, terasa mendesak, dan sering kali menginginkan makanan tertentu, seperti yang manis atau gurih.
Tanda dan Penyebab Emotional Eating
Emotional eating biasanya ditandai dengan rasa lapar yang muncul secara tiba-tiba, rasa ingin mengonsumsi makanan tertentu, hasrat makan tanpa disadari, rasa tidak kenyang meski perut sudah penuh, dan juga rasa menyesal atau bersalah setelah banyak makan.
Sementara itu, kebiasaan emotional eating terjadi lantaran beberapa faktor penyebab yang membuat seseorang merasa harus mencari dan menghabiskan makanan agar perasaannya kembali tenang. Beberapa di antaranya adalah:
- Stres. Saat stres atau merasa tertekan, tubuh akan memproduksi hormon stres (atau kortisol) dalam jumlah yang tinggi. Hormon ini secara alamiah akan memicu keinginan untuk mengonsumsi makanan asin, manis, gorengan, atau makanan-makanan yang memberikan energi berlebihan dan kenikmatan. Alhasil, semakin tinggi tingkat stres seseorang, maka akan semakin besar juga ia mencari makanan sebagai pelarian emosional.
- Memendam emosi. Selain stres, individu yang terbiasa memendam emosi juga cenderung akan mencari makanan untuk memendam atau “menekan” emosi tidak nyaman yang sedang dirasa. Emosi-emosi ini termasuk rasa marah, takut, sedih, cemas, sepi, dendam, sampai rasa malu.
- Rasa bosan atau hampa. Emotional eating juga bisa terjadi ketika seseorang merasa harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa bosan atau hampa dalam dirinya. Sebab dengan melakukan aktivitas makan, perasaan bosan atau hampa yang sedang dialami dapat teralihkan.
- Kebiasaan saat kecil. Kebiasaan-kebiasaan makan tertentu yang biasa dilakukan semasa kecil juga dapat memicu emotional eating. Contohnya adalah kebiasaan mendapatkan makanan manis atau lebih mewah ketika berhasil melalui sebuah pencapaian, yang dapat terbawa hingga dewasa.
- Pengaruh sekitar. Makan bersama teman, keluarga, atau kerabat mungkin akan menghindarkan seseorang dari rasa sepi. Di sisi lain, ketersediaan makanan di atas meja dapat memicu emotional eating, yang membuat seseorang terus makan meski mungkin sudah kenyang.
Cara Mengatasi Emotional Eating
Langkah pertama adalah menyadari kapan kita makan karena emosi. Mencatat perasaan dan situasi saat dorongan makan muncul dapat membantu mengenali polanya. Setelah mengetahui pemicunya, cobalah mencari alternatif untuk merespons emosi tersebut.
Jika stres, mungkin kita bisa berjalan sebentar atau melakukan pernapasan dalam. Jika bosan, carilah aktivitas lain yang mengisi waktu. Jika kesepian, kita bisa hubungi teman atau keluarga. Mindfulness juga dapat membantu. Dengan makan secara sadar dan memperhatikan rasa lapar serta kenyang, kita bisa belajar membedakan kebutuhan fisik dan emosional.
Meskipun pada beberapa orang tidak akan mudah untuk menghindari kebiasaan emotional eating, namun Anda perlu ketahui bahwa emotional eating pun tidak akan menyelesaikan masalah justru dapat membuat anda merasa ‘berdosa’ setelah nya yang dapat memicu Anda menjadi lebih stres, Oleh sebab itu kendalikan emosi dan stres dengan baik, kemudian Anda harus berani menghadapinya. Semoga artikel ini membantu ya, Sobat Kovermagz!


