Ini Sederet Investasi Yang Bisa Jadi Pilihan Saat Resesi

Saat ini, Hampir seluruh negara di berbagai belahan dunia mengalami kekhawatiran akan perekonomian yang dihantui oleh ancaman resesi. Tak hanya ituĀ  lonjakan inflasi juga dialami oleh berbagai negara.

Meskipun ekonomi Indonesia sudah bisa dibilang aman hingga kuartal II 2022. Namun dengan ancaman resesi tersebut membuat banyak orang sadar pentingnya memiliki dana darurat. Termasuk juga kesadaran terhadap investasi jangka panjang cukup penting.

Masyarakat saat ini sudah semakin sadar terhadap manfaat investasi. Setidaknya masih terdapat sejumlah kelas aset lain atau bagian dari kelas aset yang secara historis terbukti dapat melindungi harta yang nilainya kian menciut akibat tingginya angka inflasi.

Investor biasanya diberitahu ketika inflasi melonjak, salah satu keputusan yang terbaik adalah mengkonversi uang ke dalam aset fisik yang bergerak di atas lonjakan harga, dengan real estate merupakan yang paling sering disarankan sebagai pilihan terbaik.

Terkait pilihan investasi lain, ada juga yang biayanya tidak terlalu mahal tetapi pergerakannya seringkali bergejolak dan memiliki kinerja yang tidak konsisten selama periode inflasi tinggi.

Berikut adalah sejumlah instrumen investasi yang menarik untuk dilirik dalam kondisi perekonomian dengan inflasi tinggi. Simak selengkapnya!

Komoditas

Ketika inflasi menghantam, komoditas biasanya mengalami kenaikan paling tinggi. Hal ini karena butuh waktu lama untuk membangun kapasitas baru untuk memenuhi permintaan.

Saham emiten tambang, CPO, migas, dan produsen komoditas lainnya secara konsisten terus mengungguli kinerja pasar secara keseluruhan.

Harga minyak dan batu bara naik puluhan hingga ratusan persen tahun ini. Sementara saham tambang, khususnya batu bara, dan perusahaan minyak melonjak tajam dengan indeks energi merupakan sektor terbaik tahun ini.

Meski masih relatif asing, komoditas dapat perdagangkan melalui bursa berjangka, yang pengembalian jangka panjangnya lebih bergantung pada perbedaan antara berbagai harga berjangka daripada komoditas yang mendasarinya.

Saham

Dalam kondisi inflasi tinggi atau bahkan sampai resesi, pasar saham secara keseluruhan biasanya akan memberikan pengembalian negatif. Akan tetapi hal tersebut tidak pukul rata, artinya sejumlah sektor dapat mengalami penguatan dan sektor lainnya terkoreksi dalam.

Sejumlah pandangan umum menyarankan agar investor mengoleksi value stock yang memiliki fundamental bagus, daripada growth stock yang menawarkan pertumbuhan bisnis tinggi, seperti sektor teknologi.

Selain itu sejumlah sektor juga menawarkan peluang investasi kala suku bunga tinggi, termasuk sektor energi hingga finansial.

EmasĀ 

Inflasi yang tinggi dan ambruknya pasar saham AS beberapa waktu lalu ternyata tidak banyak berpengaruh pada harga emas di paruh pertama tahun ini.

Memang benar bahwa emas, secara historis, berkinerja baik ketika inflasi tinggi, mempertahankan nilainya bahkan di negara-negara. Meski inflasi melonjak hingga dua digit, menurut sebuah studi untuk Credit Suisse oleh akademisi Elroy Dimson, Paul Marsh dan Mike Staunton.

Permasalahan utama dengan emas adalah dalam situasi normal cenderung memiliki kinerja kurang baik berbeda dengan saham dan tidak memberikan pendapatan. Karena nilai emas tetap stabil sebab anggapan bahwa orang lain menganggapnya berharga. Selain itu emas juga rentan terhadap apa pun yang mengancam status tersebut.

Gejolak pasar, inflasi dan perang umumnya akan meningkatkan harga emas, yang harganya tetap berharga karena stabilitasnya. Tetapi investor melihat kombinasi hasil yang lebih tinggi dan dolar yang meningkat sebagai sentimen yang dapat merusak performa logam mulia.

Masih takut akan resesi? Itu dia tiga investasi yang bisa Anda pertimbangkan. ketiga investasi tersebut terbilang masih aman meski saat ini masih terjadi resesi dan tinggi nya inflasi.