Akbar cukup banyak belajar melalui kegagalan itu. Hingga ahkirnya melewati masa 1-2 tahun, ia bangkit dari keterpurukannya dan berhasil melanjutkan proyek perumahan hingga berhasil dijual kepada masyarakat. Tidak hanya sekali, ia juga mengakui kegagalan kedua yang ia lewati adalah saat pertama kali pembangunan Hotel Saka di Ringroad.
Ia mengakui bahwa ruang dalam pembuatan hotel terlalu banyak memakan space, kurang efesiensi dalam penataan ruang membuatnya kembali harus belajar dari pengalaman. Sekalipun pernah gagal namun itu tidak menghentikan langkah Akbar dalam merencanakan usaha properti yang lebih luas, yakni dalam bidang mall dan apartement.
“Kedepan nanti saya sudah berencana untuk mengembangkan properti dalam bidang mall dan apartemen.” terangnya. Ketertarikannya di dunia properti bukan tanpa alasan selain lebih menguntungkan kebanyakan tokoh pebisnis yang sukses berasal dari properti salah satunya Donald Trump.
Namun dari keseluruhannya semua pebisnis sama. Mereka semua harus memiliki sikap pantang menyerah, berani mengambil resiko, dan yang paling utama adalah mampu bertahan dari masa kritis dan tetap memegang kepercayaan orang sekitar.
“Pebisnis yang baik adalah mampu survive dari masa kritis dan mampu dipercaya. Kepercayaan ini adalah amanah yang perlu dijaga. Sehingga sekalipun kita jatuh dan berusaha bangkit kita masih punya modal kepercayaan untuk mem- bangun dari awal. Kepercayaan ini bisa dari bank, pemerintah, maupun masyarakat.” jelasnya.
Seorang Ketua
Menjalani hidup sebagai seorang pemimpin bukanlah mudah, sebagai kepala keluarga, pemimpin perusa- haan, pemimpin organisasi hingga berada di partainya sekarang, yakni Golkar.
Waktu yang padat dijalaninya den- gan santai, tanpa beban. Ia merasa mendalami kesemuanya menjadi bagian dari hidup dan tujuan yang ia jalani. Salah satunya sebagai Pembina di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumatera Utara, dirinya dulu pernah menjabat sebagai ketua.


