Ini 7 Film Indonesia Paling Laris 2025, Ada Yang Masih Tayang di Bioskop!

Saat ini, banyak orang yang sedang menerka-nerka mengenai film Indonesia paling laris di 2025. Sebagian orang mengatakan bahwa film Jumbo adalah yang paling laris. Sementara beberapa lagi menyebutkan Sore: Istri dari Masa depan. Padahal bila ditelisik lebih mendalam, film Indonesia paling laris di tahun 2025 lebih didominasi oleh genre horor dan komedi. Namun tidak menutup kemungkinan pula dengan genre-genre lainnya. 

Nah lantas apa sajakah yang termasuk film Indonesia paling laris 2025? Yuk, intip daftarnya berikut ini!

Jumbo – 10.2 Juta Penonton

Yang pertama adalah film Jumbo. Merupakan salah satu film Indonesia bahkan film animasi Indonesia yang paling laris di tahun 2025. Bagaimana tidak? Jumlah penontonnya sangat fantastis yakni menembus hingga 10.233.002 penonton. Hampir semua para artis bahkan kreator membicarakannya. Visualnya yang nyaman dilihat dengan alur cerita yang ringan namun penuh makna mampu meninggalkan pesan mendalam bagi para penontonnya. 

Berkisah tentang Don, anak 10 tahun bertubuh besar yang bercita-cita menjadi bintang pertunjukan. Pertemuannya dengan Meri, peri kecil mungil, menjadi awal petualangan ajaib penuh pesan. Ceritanya mengalir ringan, tapi tetap emosional sampai ke akhir. 

Agak Laen: Menyala Pantiku! – Lebih dari 5 Juta Penonton

Film komedi ini langsung mengalami lonjakan besar begitu resmi dirilis. Hanya dalam dua pekan, jumlah penontonnya sudah melampaui angka 5 juta, lho! Angka ini diprediksi akan terus bertambah, mengingat film ini masih tayang di bioskop.

Bukan hanya penggemar film pertamanya yang kembali ke bioskop, tetapi juga penonton baru yang ingin menikmati hiburan ringan dan menyegarkan. Alurnya bergerak cepat, karakter-karakternya kuat, dan ritme komedinya terasa presisi dari awal hingga akhir, sehingga penonton tidak sempat merasa jenuh.

Cerita berpusat pada empat komika, Boris Bokir, Bene Dion, Indra Jegel, dan Oki Rengga, yang berperan sebagai detektif dengan rekam jejak kegagalan. Mereka menjalankan misi penyamaran di sebuah panti jompo, dan sejak saat itu kekacauan demi kekacauan mulai bermunculan. Setiap upaya mereka untuk menuntaskan kasus justru memicu situasi yang semakin tidak terkendali. Meski penuh kekonyolan, komedi dalam film ini tetap tersusun cerdas, sehingga penonton dapat tertawa tanpa kehilangan ketertarikan pada jalannya cerita.

Pabrik Gula – 4.7 Juta Penonton

Pabrik Gula menjadi bukti kuat bahwa genre horor masih memiliki tempat istimewa di hati penonton Indonesia. Sejak hari pertama penayangan, film ini langsung menjadi perbincangan karena atmosfernya terasa jauh lebih kelam dibanding film horor pada umumnya. Bukan hanya menampilkan adegan menakutkan, tetapi juga menyimpan lapisan misteri yang dibangun perlahan sehingga penonton terus terpaku mengikuti alurnya.

Kisahnya fokus pada para buruh musiman yang bekerja di sebuah pabrik tua dengan sejarah masa lalu yang gelap. Satu insiden memicu kemarahan iblis yang selama ini tersembunyi, dan sejak saat itu teror berkembang tanpa kendali.

Nuansa suram dan mencekam terasa konsisten mulai dari adegan pembuka hingga penutup, membuat penonton tidak hanya terkejut, tetapi juga terbawa suasana setelah film selesai. Intensitas emosi dan ketegangan itulah yang membuat Pabrik Gula meninggalkan kesan mendalam, bahkan lama setelah penonton meninggalkan bioskop.

Petaka Gunung Gede – 3.2 Juta Penonton

Film horor kembali mendominasi lewat Petaka Gunung Gede. Kekuatan utamanya ada pada premis yang diadaptasi dari pengalaman nyata seorang pendaki. Horornya terasa membumi, tidak berlebihan, dan dibangun lewat ketegangan yang masuk akal. Itu sebabnya penonton merasa seperti ikut berada di dalam perjalanan yang sama.

Ceritanya mengikuti Maya Azka yang mengalami serangkaian kejadian supranatural saat mendaki Gunung Gede pada tahun 2007. Teror muncul dalam berbagai bentuk: suara yang tidak berasal dari siapa pun, bayangan yang hanya terlihat sekilas, hingga kemunculan entitas yang sepenuhnya berada di luar nalar. Intensitasnya meningkat perlahan namun konsisten, memaksa penonton tetap waspada dari awal hingga akhir.

Sore: Istri dari Masa Depan – 3.1 Juta Penonton

Baca Juga:  7 Drakor yang Dibintangi Park Min Young dengan Rating Tinggi, Bukan Hanya Siren's Kiss!

Film ini sangat cocok untuk penonton yang menyukai romansa dengan sentuhan fantasi dan nuansa emosional. Sore: Istri dari Masa Depan berhasil memadukan elemen cinta, misteri, dan perjalanan waktu dalam alur yang mengalir tanpa terasa dipaksakan. Akting para pemainnya turut memperkuat emosi yang dibangun, sehingga penonton dapat terseret masuk ke dinamika hubungan para tokohnya.

Kisahnya mengikuti Jonathan (Dion Wiyoko) yang tanpa sengaja bertemu dengan sosok perempuan misterius bernama Sore (Sheila Dara). Pertemuan itu menjadi titik awal yang membuka pintu menuju masa depan yang tidak pernah ia bayangkan. Sepanjang perjalanan cerita, terdapat momen-momen emosional yang mengajak penonton merenungkan makna cinta, kehilangan, dan harapan, sekaligus mempertanyakan sejauh apa seseorang bersedia bertahan demi orang yang ia cintai.

Komang – 3 Juta Penonton

Berikutnya ada Komang. Film ini sudah ditonton sebanyak 3 juta penonton sehingga menjadikannya sebagai film terlaris di tahun 2025. Mengangkat cerita tentang Ode, seorang pemuda asal Buton yang diperankan oleh Kiesha Alvaro. Ode adalah sosok yang penuh semangat dan memiliki mimpi besar di dunia hiburan. Suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Ade, seorang perempuan perantau dari Bali yang diperankan oleh Aurora Ribero. Pertemuan mereka menjadi awal dari kisah cinta yang indah namun penuh rintangan.

Keduanya yakin bahwa kelak, takdir akan mempertemukan mereka kembali. Namun, harapan itu mulai diuji ketika hadir pria lain dalam kehidupan Ade. Pria ketiga ini memiliki latar belakang keimanan yang sama dengan Ade. Sedangkan Ode dibesarkan dengan agama yang berbeda dengan Ade. Selain itu, Ode pun harus meninggalkan daerah asalnya dan merantau ke Jakarta demi mengejar impian dan membuktikan cintanya

Jalan Pulang – 2.8 Juta

Lagi, lagi genre horor memiliki tempat tersendiri bagi para pecintanya. Hal ini terbukti dari film horor berjudul jalan pulang yang memiliki jumlah penonton sebanyak 2,8 juta orang, menjadikannya sebagai film paling laris tahun ini.

Film Jalan Pulang mengisahkan perjuangan Lastini, seorang istri yang dilanda duka mendalam setelah kepergian suaminya, Edward. Edward diketahui meninggal secara janggal dan misterius. Namun, belum sempat sembuh akibat kehilangan suami, tiba-tiba putri mereka Arum jatuh sakit tanpa sebab yang jelas. Hal yang membuat Lastini makin sedih adalah pengobatan medis yang tak mampu menyembuhkan putrinya.

Seiring waktu, Lastini mulai menyadari bahwa sang anak tak sedang mengalami penyakit biasa, melainkan ada kekuatan gaib yang menguasai tubuh dan jiwanya. Demi kesembuhan Arum, Lastini harus menempuh perjalanan panjang yang penuh tantangan dan bahaya. Ditambah karena Arum harus sembuh sebelum ulang tahunnya yang jatuh tepat di tahun kabisat, jika ingin tetap selamat. Dalam perjalanan itu, Lastini ditemani dua anak lainnya, Lia dan Rama.

Mereka menyusuri berbagai pelosok Pulau Jawa, mencari pertolongan dari para dukun hingga penjaga ilmu-ilmu leluhur. Namun, yang mereka hadapi bukan sekadar sosok gaib jahat, tapi juga rasa takut, keputusasaan, dan ujian akan kekuatan cinta serta kasih seorang ibu.