Santa Claus: Kisah Sebenarnya

9. Tradisi Natal di Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, Sinterklas sering digambarkan terbang dari rumah ke rumah pada malam Natal, masuk dengan meluncur melalui cerobong asap, untuk mengantarkan hadiah biasanya berupa main-mainan kepada anak-anak ketika mereka tertidur pulas. Dia terbang dengan kereta luncur ajaibnya yang dipimpin oleh rusa kutubnya: Dasher, Dancer, Prancer, Vixen, Comet, Cupid, Donner, Blitzen, dan rusa paling terkenal, Rudolph. 

Sebagai gantinya, anak-anak sering meninggalkan kue dan susu untuk Santa dan wortel untuk rusa kutubnya pada Malam Natal. Konon, Sinterklas menyimpan “daftar anak nakal” dan “daftar anak baik” untuk menentukan siapa yang pantas menerima hadiah di pagi Natal, dan orang tua sering menggunakan daftar ini sebagai cara untuk memastikan anak-anak mereka berperilaku terbaik.

10. Santa yang Komersil

Saat ini orang-orang di banyak negara justru menjauhi pengenalan sosok Santa untuk beberapa alasan. Salah satunya adalah karena Santa mengambil alih sosok Yesus Kristus yang sebenarnya adalah alasan dari perayaan Natal. 

Alasan kedua adalah karena sosok Santa yang telah terlalu komersil, seperti iklan Coca Cola yang terkenal pada tahun 1931. Santa tidak lagi figur kakek tua pemberi hadiah bagi anak-anak baik, tetapi telah menjadi bintang-bintang komersil untuk menjual berbagai produk atau figuran yang mengundang keramaian di mall-mall. 

Alasan ketiga, sebagian umat Katolik tidak menyetujui terhapusnya sosok seorang suci bernama Nicholas yang digantikan oleh figur yang terlalu duniawi yang sangat jauh dari karakter St. Nicholas yang asli.

Terkadang Sinterklas juga ditolak karena dia bukan orang lokal. Di tempat-tempat seperti Republik Ceko, Belanda, Austria, dan Amerika Latin, mereka semua memiliki gerakan anti-Santa yang sangat kuat karena mereka berusaha melestarikan pembawa hadiah Natal dan adat istiadat asli mereka. 

Saat ini St Nicholas dimakamkan di ruang bawah tanah Basilica di San Nicola di Bari, Italia, dikarenakan sekelompok pelaut yang mengambil dan memindahkan jenazahnya dari Myra. Ketika ruang bawah tanah diperbaiki pada tahun 1950-an, tulang belulang Nicholas diambil dan diperiksa oleh tim ahli. Ribuan pengukuran dan foto x-ray diambil dari tengkorak dan tulangnya dan diarsipkan untuk studi di masa depan.

Kemudian pada tahun 2004 Profesor Caroline Wilkinson di Universitas Manchester menggunakan teknologi rekonstruksi wajah untuk memvisualisasikan seperti apa wajah St. Nicholas dengan menggunakan arsip data sebelumnya. Rekonstruksi ini dikerjakan di Face Lab  University of Dundee dan Liverpool John Moores University.

Kemungkinan wajah asli Sinterklas
Penulis: Elsa Malona