“Mempertahankan juara bagi saya lebih susah dibanding ketika berusaha merebutnya. Intinya harus terus latihan dan latihan, nggak boleh putus asa,” kata alumni SMA Kartika Medan tersebut.
Tak hanya latihan dan semangat untuk tak berputus asa saja, bagi Tri kesabaran juga merupakan hal penting lainnya. Ia selalu diingatkan sang pelatih agar senantiasa bersabar ketika tengah bertanding. Hal tersebut diperlukan sebab tak boleh ada satupun tindakan gegabah dilakukan. Poin harus terus dikumpulkan agar lawan bisa dipukul mundur dalam waktu singkat.
“Senpai (red: pelatih) Jintar selalu ingatkan jika saya harus sabar, apapun itu dalam menghadapi lawan harus sabar. Tak boleh gegabah kalau tak mau kalah. Harus tenang karena strategi ketika bertanding harus dijalankan. Pokoknya jangan gegabah dan jangan cepat panik,” kata mahasiswi jurusan manajemen tersebut.
Tri dan sang pelatih memiliki hubungan yang kuat karena dunia olahraga mengharuskan seorang atlet memiliki hubungan yang baik dengan pelatihnya. Pelatih adalah pemberi motivasi terbaik ketika bertanding meski tak menutup kemungkinan motivasi juga bisa didapat dari diri sendiri maupun orang lain seperti orang tua. “Senpai Jintar sudah pasti paham betul sifat dan karakter ku karena dia pelatihku dari kecil,” katanya.
Tri terkenang masa-masa dimana pelatihnya dengan sabar menjemput dirinya latihan. Tak pernah bosan memberi motivasi dan mempertahankan semangatnya yang tidak menentu.
“SMA kelas tiga dulu bisa dikatakan aku malas kalau disuruh latihan. Masih ingat kalau Senpai Jintar sampai jemput-jemput segala. Tak pernah bosan dan selalu mengingatkan bahwa aku harusnya mampu bersikap dewasa, aku mebutuhkan latihan bukan latihan yang membutuhkan aku,“ kenangnya.
Awalnya Hobi Badminton
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Budaya UMSU ini sebenarnya pernah bercita-cita menjadi polwan. Tak hanya itu, Tri juga sempat sangat menyenangi olahraga Badminton. Ditemani sang ayah yang menjadi pasangannya, mereka rutin bermain di pagi dan sore hari.

Ia tak pernah rutin memainkannya lagi sejak ayah dipanggil Yang Maha Kuasa. “Dulu sebenarnya hobi Badminton dan selalu main sama Bapak. Sempat dijanjikan juga kalau rutin latihan akan ikut club Badminton. Nah ketika sudah tidak ada bapak lagi, Bapak di panggil Allah dan takdirnya sudah katakan begitu, berarti inilah yang terbaik,” kenang gadis bernama lengkap Tri Winarni tersebut.
Tri tak menyesali apapun. Ia sadar keikutsertaannya dalam dunia karate karena kemauannya sendiri. Dukungan dari sang bunda adalah hal berarti dan paling berharga baginya kini. Sebagai anak, membanggakan satu-satunya orang tua adalah hal utama yang akan selalu dilakukannya.
BEBERAPA DAFTAR PRESTASI
- Kejuaraan Regional Inkanas, Juara 2 Kumite -35kg putri, tahun 2007
- Kejuaraan Mendagri XIII dan Mendiknas, di Lampung, Juara 1 +30kg putri (2009)
- Silent Knight Open, di Kuala Lumpur, Malaysia. Juara 1 +41kg putri (2010)
- Asian Karate Federation Junior & cadet, di Quanzhou China. Juara 3 -54kg putri (2011)
- KOI Open Champhionship, di Kuala Lumpur, Malaysia. Juara 3 -53kg putri (2012)
- Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNas) di Jakarta. Juara 3 Kumite Beregu Putri. (2013)
- Thailand Open Karate Championship, di Bangkok. Juara 2 Kumite Beregu (2016)
- Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) di Makassar, Juara 1 kumite -61kg Putri, Dan Juara 1 Kumite Beregu Putri. (2017)


