Per Juni 2020, UOB Kay Hian PTE LTD tercatat menjadi pemegang saham pengendali Parkson dengan porsi 71,21% dari total saham perusahaan, HSBC (Singapore) Nominees PTE LTD menguasai 4,95% saham, Phillip Securities PTE LTD memegang 1,03% saham, dan sisanya, saham Parkson dipegang oleh para pemegang saham di bawah 1%.
3.Giant
PT Hero Supermarket Tbk (HERO) telah menutup semua gerai Giant yang ada di Indonesia mulai akhir Juli 2021. Keputusan ini disusul dengan rencana optimis. Presiden Direktur PT Hero Supermarket Tbk Patrik Lindvall mengatakan, perusahaan akan memfokuskan bisnisnya ke merek dagang lain yakni IKEA, Guardian, dan Hero Supermarket.
“Kami tetap meyakini bahwa sektor peralatan rumah tangga, kesehatan dan kecantikan, serta keperluan sehari-hari untuk kelas atas memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi,” kata Patrik, melalui keterangan tertulisnya, Rabu (26/5/2021).”
Lima gerai Giant diubah menjadi IKEA dan HERO akan membuka hingga 100 gerai Guardian baru hingga 2022.
Sebenarnya jauh sebelum pandemi yang membunuh hampir 4 juta manusia secara global ini menyerang Indonesia khususnya, ada beberapa perusahaan besar yang juga mengalami kerugiaan besar dan tidak mampu bertahan, sekalipun pada masa kejayaannya, beberapa perusahaan ini mampu merajai pasar Indonesia.
4. SariWangi
PT Sariwangi Agricultural Estates Agency (Sariwangi A.E.A) dinyatakan pailit oleh pengadilan setelah terjerat utang maha besar pada tanggal 16 Oktober 2018 lalu. Putusan pengadilan dijatuhkan setelah Sariwangi melakukan ingkar janji atau wanprestasi terhadap perjanjian perdamaian atau homologasi dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terdahulu.
Brand Sari Wangi sendiri sudah dibeli oleh Unilever, sehingga Sari Wangi tetap ada di pasaran hingga saat ini. Perusahaan yang didirikan oleh Johan Alexander Supit pada tahun 1962 ini terlilit hutang lebih dari satu triliun rupiah. Perlu dikenang, Johan bersama perusahaannya merupakan orang yang berinovasi membuat teh dalam kantong yang dikenal dengan sebutan teh celup. Dengan bermodalkan mesin bekas untuk membuat teh dengan kantong, Johan membuat teh bisa dinikmati dengan mudah seperti sekarang
Ketua Dewan Teh Indonesia Bambang Murtioso melalui Detik.com mengatakan bahwa penyebab bangkrutnya Sariwangi adalah kesalahan strategi bisnis dan gagal investasi.
“Setahu saya menerapkan teknologi pengelolaan air dalam rangka meningkatkan produktivitas. Secara teknis it’s okay, tapi secara ekonomis tapi tidak layak. Sehingga investasi tidak bisa kembali. Angkanya saya kurang tahu,” tuturnya.
5. Jamu Nyonya Meneer
Empat tahunan yang lalu, salah satu perusahaan jamu terbesar di Indonesia yaitu PT Nyonya Meneer menutup pabriknya di Semarang pada 2017 lalu. Melansir dari tempo.co, menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional, Dwi Ranny Pertiwi Zarman, Nyonya Meneer bangkrut disebabkan kurangnya inovasi.
Pasalnya, banyak industri besar obat tradisional harus bekerja ekstra untuk bersaing dengan produk lain di tingkat domestik dan luar negeri. Belum lagi, industri jamu seperti PT Nyonya Meneer juga harus bersaing dengan jamu ilegal.
“Banyak produk ilegal didistribusikan secara online. Sementara itu, iklan produk legal dikendalikan demi regulasi,” kata Dwi.





