Genre game RP di TikTok
Seperti yang sudah dijelaskan diawal, game roleplayer di TikTok tidak hanya berupa fiksi atau karakter film maupun kartun seperti Dungeons and Dragons, Battletech dan Star saja. Melainkan juga terbagi ke dalam berbagai genre yang bisa dipilih oleh para pemain sesuai dengan minat dan selera mereka. Beberapa diantaranya yaitu:
- Korea: Genre ini mengambil latar belakang budaya dan gaya hidup Korea Selatan. Para pemain bisa berperan sebagai idol K-pop, aktor, model, atau warga biasa Korea. Pemain juga bisa menggunakan bahasa Korea dalam konten dan interaksi mereka.
- Western: Genre yang satu ini mengambil latar belakang budaya dan gaya hidup negara-negara Barat. Para pemain bisa berperan sebagai selebriti Hollywood, musisi, atlet, atau warga biasa Amerika atau Eropa. Para pemain juga bisa menggunakan bahasa Inggris dalam konten dan interaksi mereka.
- Anime: Genre ini mengambil latar belakang budaya dan gaya hidup Jepang. Para pemain bisa berperan sebagai karakter anime, manga, atau game Jepang yang mereka sukai. Para pemain juga bisa menggunakan bahasa Jepang dalam konten dan interaksi mereka.
- Fantasy: Genre ini mengambil latar belakang dunia fiksi yang penuh dengan imajinasi. Pemain bisa berperan sebagai makhluk-makhluk fantastis seperti peri, naga, vampir, atau penyihir. Pemain juga bisa menggunakan bahasa atau simbol khusus dalam konten dan interaksi mereka.
Selain genre-genre di atas, masih ada banyak genre game RP lainnya yang bisa ditemukan di TikTok, seperti horror, sci-fi, historical, dan sebagainya.

Dampak Negatif Game Roleplay
Dibalik keseruannya, game roleplay ternyata berdampak negatif bagi anak-anak. Salah satunya berimbas kepada aksi pornografi. Tak hanya itu, anak juga bisa menjadi korban Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).
Konten kekerasan ini dapat mempengaruhi emosi dan kesehatan mental anak-anak. Hal ini tidak sesuai usia, konflik yang intens atau karakter dengan sikap negatif dapat mempengaruhi persepsi dan perilaku anak-anak di dunia nyata. Selain itu, terdapat pula dampak negatif lainnya. Diantaranya:
-
Mengajarkan ilmu sihir
Hampir setiap merek Roleplay apapun melibatkan ilmu ‘sihir’ untuk memainkan efek imajiner dari mantra dan kemampuan magis. Mantra digunakan pemain untuk menumpas lawan di luar kemampuan karakter sebagai jalan pintas. Sementara sihir pada gim RP muncul dalam berbagai bentuk, seperti ramuan, tongkat, jimat, gelang, cincin, pakaian, maupun perhiasan lainnya.
Sebagai seseorang yang menganut kepercayaan agama, Vince Londini menilai bahwa menikmati game bermain peran dengan kekuatan magis dapat menumbuhkan pikiran buruk atau dengan kata lain mempercayai hal-hal spiritual dalam koridor negatif.
-
Menumbuhkan Pandangan Ateisme
Lebih lanjut, menurut Vince Londini, ketergantungan terhadap permainan Role Play mampu menghilangkan pemikiran tentang realitas keagamaan. Dengan demikian, para pemain utamanya anak-anak akan cenderung lebih mudah terpengaruh. Mereka lebih mudah untuk mengabaikan agama atau ibadah yang sama saja dengan anti-Tuhan (ateisme). Mengabaikan Tuhan dianggap serupa dengan mengutuk atau menyerang Sang Pencipta.
-
Memaparkan Konten Dewasa
Perlu diketahui bahwa game roleplay hampir sebagian besar memaparkan konten dewasa. Oleh karena itu, para orangtua tak boleh mengabaikannya. Mengetahui konten dewasa sebelum waktunya dapat memengaruhi stimulus otak anak sehingga berpengaruh untuk perkembangannya.
-
Menyebabkan Kecanduan
Bermain roleplay dapat mengakibatkan kecanduan. Anak-anak yang sukses memainkan game tersebut tentunya akan menghabiskan waktu terlalu banyak di depan layar dan mengurangi partisipasi dalam aktivitas fisik yang penting untuk kesehatan maupun lingkungan. Kecanduan ini bahkan juga bisa mengganggu kualitas tidur yang cukup, kegiatan sekolah, dan interaksi sosial di dunia nyata.
Belum lagi, terdapat sebuah penelitian berjudul “Facebook Role Play Addiction: A Comorbidity with Multiple Compulsive–Impulsive Spectrum Disorders” dalam Jurnal Kecanduan Perilaku (2016) oleh Institut Nasional Kesehatan Mental dan Ilmu Saraf, India. Mereka menyajikan kasus kecanduan roleplay dengan penggunaan internet yang berlebihan serta fokus khusus pada komorbiditas psikiatri.
Ada seorang gadis berusia 15 tahun dengan gangguan pemusatan perhatian saat kanak-kanak (ADHD tanpa hiperaktivitas), gangguan obsesif-kompulsif, trikotilomania saat remaja, dan lingkungan keluarga yang menggunakan Facebook berlebihan. Ia dilaporkan kecanduan bermain roleplay di media sosial Facebook.
Dampak Positif Game Role Play
Selain berdampak negatif, banyak orang yang mengklaim bahwa game role play juga memiliki pengaruh positifnya seperti:
- Membantu anak mencapai pemahaman diri sendiri
- Meningkatkan keterampilan si anak, termasuk keterampilan problem solving, menganalisis perilaku, atau menunjukkan pada orang lain bagaimana harus berperilaku
- Anak dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain, belajar bagaimana membagi tanggung jawab, mengambil keputusan dalam keadaan yang spontan, dan merangsang anak untuk berpikir serta memecahkan masalah.
- Dalam dunia psikologi, roleplay dapat mengembangkan daya imajinasi dan penghayatan anak sehingga anak menjadi kreatif dan inovatif.
Demikian ulasan mengenai game roleplay di TikTok beserta dampak negatif dan positifnya. Semoga informasi di atas bermanfaat dan menambah wawasan!


