Work-Life Balance Sulit Dicapai? Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan

Memiliki pekerjaan yang sukses tetapi hampir tidak punya waktu untuk diri sendiri tentu bisa melelahkan. Sebaliknya, terlalu fokus pada kehidupan pribadi tanpa mengatur pekerjaan dengan baik juga dapat menimbulkan masalah baru. Inilah alasan mengapa work-life balance semakin banyak dibicarakan di tengah kehidupan modern yang serba cepat.

Work-life balance bukan berarti membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi secara sama rata. Setiap orang memiliki kebutuhan, tanggung jawab, dan kondisi yang berbeda. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang dapat menjalankan pekerjaan tanpa terus-menerus mengorbankan kesehatan, keluarga, waktu istirahat, dan kebutuhan pribadi.

Namun, mencapai keseimbangan tersebut ternyata tidak selalu mudah. Tanpa disadari, ada sejumlah kebiasaan yang justru membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur.

Lantas, apa saja kesalahan yang sering dilakukan dan bagaimana cara memperbaikinya?

Apa Itu Work-Life Balance?

Work-life balance adalah kondisi ketika seseorang mampu mengelola tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi secara seimbang. Kehidupan pribadi dalam hal ini bukan hanya waktu bersama keluarga, tetapi juga mencakup istirahat, kesehatan, hubungan sosial, hobi, dan waktu untuk diri sendiri.

Keseimbangan ini bukan berarti seseorang harus berhenti bekerja tepat pada jam tertentu setiap hari. Dalam kondisi tertentu, pekerjaan memang membutuhkan waktu tambahan. Namun, jika bekerja terlalu lama sudah menjadi kebiasaan dan membuat seseorang tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat, kondisi tersebut perlu dievaluasi.

Menurut World Health Organization (WHO), bekerja dalam kondisi dengan jam kerja yang terlalu panjang dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan tertentu. WHO dan International Labour Organization (ILO) memperkirakan bahwa bekerja 55 jam atau lebih per minggu berkaitan dengan peningkatan risiko stroke dan penyakit jantung iskemik dibandingkan bekerja 35–40 jam per minggu.

Karena itu, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bukan hanya persoalan kenyamanan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan.

1. Menganggap Sibuk Berarti Produktif

Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan adalah menganggap semakin banyak pekerjaan yang diselesaikan berarti semakin produktif.

Padahal, sibuk dan produktif merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop, tetapi belum tentu menyelesaikan pekerjaan yang benar-benar penting.

Terlalu banyak pekerjaan juga dapat membuat konsentrasi menurun dan meningkatkan kelelahan.

Daripada berusaha menyelesaikan semua hal sekaligus, buatlah daftar prioritas. Tentukan pekerjaan yang paling penting dan selesaikan terlebih dahulu.

2. Tidak Menetapkan Batas Jam Kerja

Bekerja dari rumah memang memberikan fleksibilitas. Namun, kondisi tersebut juga dapat membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin sulit dibedakan.

Laptop yang selalu berada di meja dan notifikasi pekerjaan yang terus muncul dapat membuat seseorang merasa harus selalu siap bekerja.

Cobalah menetapkan batas waktu yang jelas. Setelah jam kerja selesai, matikan notifikasi pekerjaan jika memungkinkan dan berikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat.

Jika pekerjaan memang mengharuskan Anda tetap dapat dihubungi di luar jam kerja, tentukan kondisi tertentu yang benar-benar membutuhkan respons segera.

3. Membawa Masalah Pekerjaan ke Rumah

Tidak semua masalah pekerjaan dapat langsung dilupakan setelah meninggalkan kantor. Namun, terus memikirkan pekerjaan sepanjang malam dapat membuat waktu istirahat menjadi kurang berkualitas.

Pikiran yang terus aktif memikirkan pekerjaan juga dapat membuat seseorang sulit benar-benar rileks.

Salah satu cara yang dapat dicoba adalah membuat rutinitas transisi setelah bekerja. Misalnya, berjalan kaki sebentar, mandi, mengganti pakaian, menikmati makan malam, atau melakukan aktivitas lain yang menandai berakhirnya waktu kerja.

4. Terlalu Sering Mengatakan “Iya”

Keinginan untuk membantu orang lain memang baik. Namun, terlalu sering menerima semua permintaan dapat membuat beban pekerjaan semakin berat.

Ketika seseorang sudah memiliki terlalu banyak tanggung jawab, mengatakan “iya” pada tugas tambahan dapat mengurangi waktu untuk menyelesaikan pekerjaan utama maupun beristirahat.

Belajar mengatakan “tidak” secara profesional bukan berarti tidak mau bekerja sama. Justru, memahami kapasitas diri dapat membantu seseorang menghindari pekerjaan yang berlebihan.

5. Mengabaikan Waktu Istirahat

Ada anggapan bahwa istirahat hanya boleh dilakukan setelah semua pekerjaan selesai. Masalahnya, pekerjaan hampir selalu akan ada.

Jika terus menunggu sampai semua pekerjaan benar-benar selesai untuk beristirahat, seseorang bisa menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bekerja.

Istirahat sebaiknya menjadi bagian dari rutinitas, bukan hadiah setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan.

Gunakan waktu makan siang dengan baik, berdiri dan bergerak setelah duduk terlalu lama, serta berikan jeda singkat ketika pekerjaan membutuhkan konsentrasi tinggi.

6. Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Media sosial sering memperlihatkan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna. Ada yang tampak sukses dalam karier, memiliki bisnis, sering bepergian, dan tetap mempunyai banyak waktu untuk keluarga.

Namun, apa yang terlihat di media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan seseorang secara keseluruhan.

Membandingkan kehidupan pribadi dengan orang lain justru dapat membuat seseorang merasa tertinggal.

Work-life balance setiap orang berbeda. Bagi seseorang, bekerja 40 jam seminggu mungkin terasa ideal. Bagi orang lain, kondisi pekerjaan dan keluarga mungkin membutuhkan pengaturan yang berbeda.

7. Tidak Menentukan Prioritas

Tanpa prioritas yang jelas, semua pekerjaan dapat terasa penting.

Akibatnya, seseorang mungkin menghabiskan terlalu banyak waktu untuk pekerjaan kecil sementara pekerjaan utama justru tertunda.

Cobalah membagi aktivitas berdasarkan tingkat kepentingannya. Tentukan mana yang harus segera diselesaikan, mana yang bisa dijadwalkan, dan mana yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Dengan prioritas yang lebih jelas, waktu dapat digunakan secara lebih efektif.

8. Mengorbankan Tidur demi Pekerjaan

Mengurangi waktu tidur untuk menyelesaikan pekerjaan mungkin terlihat seperti solusi cepat. Namun, jika dilakukan berulang kali, kebiasaan tersebut dapat berdampak buruk terhadap kesehatan.

Tidur yang cukup membantu tubuh melakukan pemulihan dan mendukung fungsi kognitif, termasuk konsentrasi serta kemampuan mengambil keputusan.

Karena itu, jangan menjadikan waktu tidur sebagai bagian pertama yang dikorbankan ketika pekerjaan menumpuk.

Jika pekerjaan terlalu banyak, evaluasi kembali prioritas dan waktu yang digunakan untuk menyelesaikannya.

9. Tidak Memiliki Waktu untuk Diri Sendiri

Work-life balance bukan hanya tentang pekerjaan dan keluarga.

Seseorang juga membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Membaca buku, berolahraga, berkebun, menonton film, memasak, atau sekadar menikmati waktu tanpa pekerjaan juga merupakan bagian dari kehidupan yang seimbang.

Tidak perlu menyediakan waktu berjam-jam. Bahkan 15–30 menit untuk melakukan sesuatu yang disukai dapat menjadi jeda dari rutinitas.

Cara Membangun Work-Life Balance yang Lebih Sehat

Mencapai work-life balance tidak harus dilakukan dengan perubahan besar. Mulailah dari kebiasaan sederhana.

Pertama, tentukan jam kerja yang realistis dan berusaha mematuhinya. Kedua, buat daftar prioritas agar waktu tidak habis untuk pekerjaan yang kurang penting.

Ketiga, kurangi gangguan seperti notifikasi yang tidak diperlukan ketika sedang bekerja. Keempat, gunakan waktu istirahat untuk benar-benar beristirahat, bukan sekadar berpindah dari laptop ke ponsel.

Terakhir, jangan lupa mengevaluasi rutinitas secara berkala. Jika pekerjaan terus mengambil sebagian besar waktu pribadi, mungkin sudah saatnya mengubah cara bekerja atau membicarakan beban kerja dengan atasan.

Work-Life Balance Bukan Berarti Harus Sempurna

Hal penting yang perlu dipahami adalah work-life balance tidak selalu berarti kehidupan harus berjalan sempurna setiap hari.

Ada kalanya pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar. Pada waktu lain, keluarga, kesehatan, atau kebutuhan pribadi mungkin menjadi prioritas.

Yang terpenting adalah kondisi tersebut tidak berlangsung terus-menerus hingga mengorbankan kesehatan dan kualitas hidup.

Keseimbangan dapat berubah sesuai dengan fase kehidupan. Karena itu, tidak perlu merasa gagal ketika suatu periode terasa lebih berat dari biasanya.

Kesimpulan

Work-life balance sulit dicapai bukan selalu karena pekerjaan terlalu banyak. Terkadang, kebiasaan kita sendiri yang membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi semakin kabur.

Menganggap sibuk sebagai produktif, tidak menetapkan jam kerja, terlalu sering mengatakan “iya”, mengabaikan waktu istirahat, mengorbankan tidur, hingga tidak memiliki waktu untuk diri sendiri merupakan beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan.

Pada akhirnya, work-life balance bukan tentang bekerja sesedikit mungkin. Konsep ini lebih berkaitan dengan kemampuan mengatur prioritas sehingga pekerjaan tetap dapat diselesaikan tanpa terus-menerus mengorbankan kesehatan dan kehidupan pribadi.

Dengan membuat batas yang lebih jelas, mengatur prioritas, dan memberikan waktu yang cukup untuk beristirahat, keseimbangan hidup dapat dibangun secara perlahan.