
Eco-tourism kini jadi salah satu tren liburan paling dicari di Indonesia, bukan cuma soal healing, tapi juga soal dampak. Survei Sustainable Travel 2026 dari Agoda mencatat bahwa mayoritas wisatawan Indonesia kini mempertimbangkan faktor keberlanjutan sebelum memesan tiket, menempatkan Indonesia di posisi tertinggi kedua se-Asia untuk kesadaran wisata ramah lingkungan.
Tren ini sejalan dengan proyeksi Kementerian Pariwisata yang memasukkan eco-tourism sebagai salah satu dari enam arah utama pariwisata Indonesia tahun ini, didorong generasi milenial dan Gen Z yang lebih memilih pengalaman otentik ketimbang sekadar foto estetik. Buat kamu yang berusia 25-40 tahun dan mulai lelah dengan wisata masif berbayar mahal tapi minim makna, berikut tujuh destinasi eco-tourism Indonesia yang sedang naik daun.
1. Raja Ampat, Papua Barat
Raja Ampat tetap jadi primadona wisata bahari berkelanjutan. Kawasan konservasi laut di sini menerapkan sistem marine protected area yang ketat, sementara sebagian besar penginapan sudah beralih ke energi terbarukan dan konsep eco resort [3]. Cocok untuk kamu yang gemar diving sekaligus ingin memastikan uang liburanmu benar-benar menjaga terumbu karang.
2. Taman Nasional Komodo, NTT
Selain rumah bagi komodo, taman nasional ini menerapkan pengelolaan wisata berbasis konservasi dengan pembatasan jumlah pengunjung dan jalur trekking yang dikontrol ketat agar satwa liar tidak terganggu [4]. Labuan Bajo sebagai pintu masuknya juga makin ramai berkat peningkatan infrastruktur, menjadikannya destinasi yang praktis untuk long weekend.
3. Desa Wisata Penglipuran, Bali
Dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia, Penglipuran menjalankan konsep Tri Hita Karana, filosofi harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, melalui pengelolaan sampah mandiri dan aturan ketat soal penebangan pohon [4]. Wisatawan bisa menginap di homestay warga dan belajar langsung praktik hidup berkelanjutan, bukan sekadar berfoto di depan gapura ikonik.
4. Tanjung Puting, Kalimantan Tengah
Buat pencinta satwa, susur Sungai Sekonyer dengan klotok (perahu kayu tradisional) sambil mengamati orangutan liar jadi pengalaman yang mendukung program konservasi dan rehabilitasi satwa [4]. Wisata ini mengedukasi sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga hutan hujan tropis.
5. Gunung Rinjani, Lombok
Rinjani jadi contoh wisata berbasis komunitas: penduduk lokal dilibatkan sebagai pemandu sekaligus penjaga kebersihan jalur pendakian [5]. Buat kamu yang suka aktivitas fisik sambil liburan, mendaki di sini terasa lebih bermakna karena ekonominya berputar langsung ke masyarakat sekitar.
6. Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya
Tak perlu jauh-jauh ke luar pulau untuk eco-tourism. Hutan bakau seluas 200 hektare ini berfungsi sebagai pencegah abrasi pesisir sekaligus rumah bagi burung endemik, dan bisa diakses dengan jalur trekking kayu maupun perahu hanya dalam waktu singkat dari pusat kota [6]. Opsi ideal untuk quick getaway akhir pekan bagi warga urban Surabaya dan sekitarnya.
7. Flores dan Wae Rebo, NTT
Alih-alih membangun resor besar, Flores memilih model tourism berbasis komunitas: koperasi warga menjadi pemandu, menjaga hutan, dan memastikan pendapatan wisata tetap beredar di kampung mereka. Trekking dua jam menuju Wae Rebo, desa dengan tujuh rumah adat berbentuk kerucut di puncak gunung, menawarkan pengalaman menginap tanpa listrik yang justru jadi daya tarik utamanya [7].
Kenapa Eco-Tourism Kian Digemari?
Perubahan pola pikir ini tak lepas dari kesadaran generasi muda urban terhadap isu iklim, sekaligus keinginan agar uang yang dikeluarkan saat liburan benar-benar berdampak bagi komunitas lokal, bukan hanya dinikmati investor besar [1]. Bagi generasi yang tumbuh dengan isu krisis iklim, memilih destinasi yang menjaga ekosistem terasa lebih sejalan dengan nilai pribadi dibanding sekadar mengejar validasi media sosial.
FAQ Seputar Eco-Tourism di Indonesia
- Apa itu eco-tourism?
Eco-tourism atau wisata ramah lingkungan adalah bentuk perjalanan yang mengutamakan pelestarian alam, pemberdayaan komunitas lokal, dan minim dampak negatif terhadap lingkungan sekitar destinasi.
- Apakah eco-tourism selalu mahal?
Tidak selalu. Beberapa destinasi seperti Ekowisata Mangrove Wonorejo justru terjangkau dan dekat kota besar, sehingga cocok untuk liburan singkat berbujet terbatas.
- Bagaimana cara memastikan destinasi benar-benar ramah lingkungan?
Perhatikan praktik nyata di lapangan, seperti pengelolaan sampah, pembatasan jumlah pengunjung, pelibatan warga lokal sebagai pemandu, dan penggunaan energi terbarukan, bukan hanya klaim “sertifikasi hijau” semata.
- Kapan waktu terbaik mengunjungi destinasi eco-tourism di Indonesia?
Umumnya musim kemarau (April-Oktober) lebih ideal untuk trekking dan aktivitas luar ruangan, meski beberapa destinasi seperti wisata mangrove bisa dikunjungi sepanjang tahun.
