Mengenal Ririh Krisan, Bunga Bak Salju yang Jadi Andalan Kota Tomohon

275

Sobat Kovermagz pecinta bunga pasti sudah tidak asing lagi dengan bunga krisan. – Dikenal dengan bunga yang kerap menjadi rangkaian dekorasi. Para penggemar bunga umumnya memanfaatkan bunga itu karena tipe, bentuk, dan warnanya yang beragam.

Bunga Krisan memiliki beragam tipe, bunga itu mudah dikreasikan. Selain itu, krisan digunakan sebagai bunga pot dan dapat juga dimanfaatkan sebagai teh herbal. Namun, Kali ini Kovermagz akan membahas salah satu jenis bunga Ririh Krisan.

Masyarakat Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara memiliki tanaman yang jadi unggulan yakni ririh krisan. Masyarakat menyebut tamanan ini dengan nama krisan salju. Hal ini karena sosok bunga yang putih bersih bak salju.

Ukuran bunga juga besar, berdiameter 20 cm, itulah krisan ririh khas Tomohon. Varietas hasil seleksi populasi itu tidak membutuhkan penyinaran lampu selama masa budidaya. Biasanya petani krisan membutuhkan lampu untuk memperpanjang penyinaran. Penasaran dengan keunikan bunga yang satu ini? simak selengkapnya di bawah ini!

 Bunga Ririh Krisan 

Penanaman ririh memungkinkan tanpa naungan alias di lahan terbuka. Krisan salju menyukai lingkungan berudara sejak berketinggian tempat 750-1.200 m di atas permukaan laut.

Tinggi tanaman 110 – 120 cm. Dalam satu musim tanam ririh menghasilkan bunga sekitar 52-54 kuntum per m2. Bunga berbentuk dekoratif dengan jumlah bunga pita 280-300 helai. Tanaman mulai belajar berbunga saat berumur 60-70 hari setelah tanam.

Melansir dari goodnewsfromindonesia Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Benih Pertanian Kota Tomohon, Janeke NA Polii menuturkan bunga ririh bisa bertahan hingga dua pekan pasca petik. Bandingkan dengan ketahanan bunga seruni pada umumnya yang hanya bertahan 7 hari.

“Ririh gampang sekali mengeluarkan tunas lateral yang menjadi modal bagi petani sebagai sumber setek pucuk. Keelokan ririh menarik minat pasar internasional, terutama Jepang,” tutur Jeneke.yang dimuat Trubus.

Keunggulan varietas ini membuat petani seperti Indra Salam jatuh hati. Di Tohomon bagian utara terdapat 50 kelompok tani yang aktif memproduksi ririh dan kulo. Mereka membudidayakan krisan lokal yang menjadi ikon Tomohon.

Pekebun di Kakaskasen, Kota Tomohon, Indra Salam membudidayakan krisan di dalam 3 rumah tanam, masing-masing berukuran 250 meter2, 150 m2, dan 96 m2. Setiap bulan dia memperoleh omset sebesar Rp7 – 5 juta.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia mencatat krisan merupakan produk hortikultura yang memiliki laju pertumbuhan tertinggi ketiga setelah mangga dan manggis. Volume produksi krisan nasional mencapai 455 juta tangkai pada 2015.

Sulawesi Utara menempati urutan ketujuh sebagai sentra krisan terbanyak di Indonesia dengan total produksi 2,8 juta tangkai. Kota Tomohon menjadi salah satu pemasok krisan bagi provinsi yang berlokasi di ujung Pulau Selebes.

Janeke menuturkan Tomohon sebagai kota bunga. Komoditas unggulannya adalah gladiol, krisan, anggrek, anyelir, lili, anthurium, dan aster. Banyak orang-orang Tomohon yang rajin berkebun sejak awal 2000-an.

Menurut data Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kota Tomohon saat itu produksi krisan di Tomohon hanya 1,04 juta tangkai. Tomohon patut diperhitungkan sebagai sentra krisan yang mumpuni.


Warning: A non-numeric value encountered in /home/kovermag/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 353